0

Positif Thinking

Posted by Alexander saogo on 24 September 2013 in Artikel |

think +

Berpikir positif merupakan sikap mental yang melibatkan proses memasukan pikiran-pikiran, kata-kata, dan gambaran-gambaran yang konstruktif (membangun) bagi perkembangan pikiran anda. Pikiran positif menghadirkan kebahagiaan, sukacita, kesehatan, serta kesuksesan dalam setiap situasi dan tindakan anda. Apapun yang pikiran anda harapkan, pikiran positif akan mewujudkannya. Jadi berpikir positif juga merupakan sikap mental yang mengharapkan hasil yang baik serta menguntungkan.

Tidak semua orang menerima atau mempercayai pola berpikir positif. Beberapa orang menganggap berpikir positif hanyalah omong kosong, dan sebagian menertawakan orang-orang yang mempercayai dan menerima pola berpikir positif. Diantara orang-orang yang menerima pola berpikir positif, tidak banyak yang mengetahui cara untuk menggunakan cara berpikir ini untuk memperoleh hasil yang efektif. Namun, dapat dilihat pula bahwa semakin banyak orang yang menjadi tertarik pada topik ini, seperti yang dapat dilihat dari banyaknya jumlah buku, kuliah, dan kursus mengenai berpikir positif. Topik ini memperoleh popularitas dengan cepat.

Kita sering mendengar orang berkata: “Berpikirlah positif!”, yang ditujukan bagi orang-orang yang merasa kecewa dan khawatir. Banyak orang tidak menganggap serius kata-kata tersebut, karena mereka tidak mengetahui arti sebenarnya dari kata-kata tersebut, atau menganggapnya tidak berguna dan efektif. Berapa jumlah orang yang anda kenal, yang memiliki waktu untuk memikirkan kekuatan dari berpikir positif?

Cerita berikut mengilustrasikan bagaimana kekuatan berpikir positif bekerja:

Beno mengajukan lamaran kerja, namun kepercayaan dirinya rendah, dan dia menganggap dirinya gagal dan tidak layak memperoleh kesuksesan, ia merasa yakin bahwa ia tidak akan memperoleh pekerjaan tersebut. Ia memiliki pikiran negatif terhadap dirinya sendiri, dan percaya bahwa calon pegawai yang lain lebih baik dan lebih memenuhi syarat dibandingkan dirinya. Beno memperoleh sikap ini karena pengalaman buruk yang ia peroleh dari wawancara pekerjaan yang telah ia ikuti sebelumnya.

Pikirannya dipenuhi dengan pikiran-pikiran negatif dan rasa takut atas pekerjaan tersebut selama satu minggu penuh sebelum ia akan diwawancara. Ia yakin ia akan ditolak. Pada hari wawancara ia bangun terlambat, rasa takutnya menjadi kenyataan. Ia mendapati kemeja yang akan ia kenakan kotor, dan kemejanya yang lain harus disetrika. Dan karena ia sudah terlambat, ia memutuskan untuk mengenakan kemeja yang kusut.

Selama wawancara, ia merasa tegang, menunjukkan sikap negatif, khawatir mengenai kemejanya, dan merasa lapar karena ia tidak memiliki cukup waktu untuk sarapan. Semua hal ini menyebabkan pikirannya teralihkan dan sulit baginya untuk fokus pada wawancara. Sikapnya secara keseluruhan menimbulkan kesa yang buruk, dan sebagai akibatnya rasa takutnya menjadi kenyataan dan tidak memperoleh pekerjaan tersebut.

Budi juga mengajukan lamaran atas pekerjaan yang sama, namun ia menyikapinya secara berbeda. Ia merasa yakin bahwa ia akan memperoleh pekerjaan tersebut. Satu minggu sebelum wawancara, ia sering memvisualisasikan dirinya memperoleh pekerjaan tersebut.

Malam hari sebelum wawancara, ia menyiapkan pakaian yang akan ia kenakan dan tidur lebih awal dari biasanya. Pada hari wawancara, ia bangun lebih awal dari baiasanya, sehingga ia memiliki cukup waktu untuk sarapan, lalu tiba di tempat wawancara sebelum jadwal.

Ia memperoleh pekerjaan tersebut karena ia berpikir positif terhadap hal-hal yang ia lakukan. Tentunya ia juga memenuhi persyaratan untuk memperoleh pekerjaan tersebut, sama halnya dengan Beno.

Apa yang bisa kita pelajari dari dua cerita tersebut? Apakah ada sihir yang digunakan dalam cerita tersebut? Tidak, semuanya merupakan hal yang alami. Jika kita memiliki sikap yang positif, sikap-sikap tersebut akan menghasilkan perasaan-perasaan yang positif, gambaran-gambaran yang konstruktif, dan kita akan melihat dalam mata pikiran kita apa yang kita inginkan. Hal ini akan memberikan pencerahan, lebih banyak kekuatan, dan kebahagiaan. Diri anda juga akan memancarkan kebaikan, kebahagiaan, dan kesuksesan. Bahkan pikiran positif juga akan memberikan beragam manfaat bagi kesehatan anda. Kita berjalan tegak dan suara kita lebih berwibawa. Bahasa tubuh kita menunjukkan perasaan kita.

Pikiran Positif dan Negatif Menular

Setiap dari kita mempengaruhi orang-orang yang kita temui, baik secara langsung maupun tidak langsung. Hal ini terjadi secara naluriah, dalam pikiran bawah sadar anda, yang terpancar melalui pikiran dan perasaan, serta bahasa tubuh kita. Orang di sekeliling kita dapat merasakan aura kita dan dipengaruhi oleh pikiran kita, juga sebaliknya. Wajarkah jika kita ingin berada di sekitar orang-orang yang positif dan menghindari orang-orang yang negatif? Orang lebih tergerak untuk membantu kita jika kita bersikap positif, dan mereka tidak menyukai dan menghindari siapapun yang bersikap negatif.

Pikiran-pikiran, kata-kata, dan sikap negatif akan menghasilkan mood serta tindakan yang negatif dan tidak menyenangkan. Semua hal ini akan berujung pada kegagalan, frustrasi, dan kekecewaan.

Instruksi-Instruksi Praktis

Untuk merubah pikiran anda menjadi positif, diperlukan latihan dan kemauan untuk merubah diri anda karena sikap dan pola pikir tidak dapat berubah dalam sekejap.

Simaklah topik berikut, pikirkan keuntungan yang akan anda peroleh dan ajaklah diri anda untuk mencobanya. Kekuatan pikiran merupakan kekuatan dahsyat yang selalu membentuk kehidupan kita. Proses pembentukkan biasanya dilakukan di dalam pikiran bawah sadar kita, namun sangatlah mungkin untuk melakukan proses tersebut secara sadar. Meskipun usulan tersebut terdengar cukup aneh; cobalah untuk melakukannya, karena anda tidak akan merasa rugi; sebaliknya anda akan memperoleh banyak hal. Acuhkan apapun pendapat orang lain tentang diri anda ketika anda mengubah pola pikir anda.

Selalu visualisasikan situasi yang menguntungkan dan bermanfaat bagi anda. Gunakan kata-kata positif dalam suara hati anda atau ketika anda berbicara dengan orang lain. Tersenyumlah sedikit lebih banyak, karena senyuman akan membantu anda untuk berpikir lebih positif. Abaikan perasaan malas atau keinginan untuk berhenti. Jika anda bertahan, anda akan berubah pola pikir anda.

Saat pikiran negatif memasuki pikiran anda, anda harus mewaspadainya dan menggantikan pikiran tersebut dengan pikiran yang lebih konstruktif. Pikiran negatif akan mencoba memasuki pikiran anda lagi, dan sekali lagi anda harus menggantikannya dengan pikiran positif. Seakan-akan anda dua gambar di depan anda, dan anda memilih untuk melihat salah satu gambar tersebut dan mengabaikan gambar yang lain.

Jika tiba-tiba merasakan perlawanan dari dalam diri anda ketika anda berusaha mengganti pikiran-pikiran negatif tersebut, jangan menyerah. Tetap fokuskan diri anda pada pikiran-pikiran yang positif dan menyenangkan.

Terlepas dari keadaan anda saat ini, berusahalah untuk berpikirlah positif. Pikirkan hasil serta situasi yang menguntungkan anda, dan keadaan akan berubah sesuai dengan pikiran anda. Perubahan ini tentunya membutuhkan waktu, namun pada akhirnya perubahan akan terjadi.

Metode lain yang bisa anda lakukan adalah melakukan afirmasi berulang kali. Afirmasi merupakan metode yang menyerupai visualisasi, secara lebih kreatif, dan keduanya bisa digunakan secara bersamaan.

0

Akibat dan Bahaya Merokok

Posted by Alexander saogo on 11 September 2013 in Artikel |

No Smoking Sign on Stop Sign --- Image by © Alan Schein/zefa/Corbis

Bahaya MerokokBahaya rokok dan dampak rokok bagi kesehatan memang sudah dicantumkan dalam bungkus rokok yang dijual dipasaran. Disana disebutkan bahaya rokok untuk kesehatan “bisa menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin“.

Akan tetapi, walaupun bahaya rokok serta zat rokok yang terkandung didalamnya sudah disebutkan bungkus, masih banyak masyarakat Indonesia yang merokok aktif. Bukan saja Indonesia, bahkan dunia.

Sebenarnya, perang terhadap rokok sudah dilakukan oleh berbagai orang secara individu maupun secara kelembagaan dan organisasi. Tidak salah akhirnya jika pada setiap tanggal 31 Mei seluruh dunia merayakan atau mengkampanyekan World No Tobacco Day, atau di Indonesia kita menyebutnya hari tanpa asap rokok. Perlu diketahui, bahwa World No Tobacco Day tersebut adalah anggota dari badan kesehatan dunia-WHO. Jadi, bisa dipastikan bahaya merokok memang benar dan bukan main-main.

Nah, sebelum kita bicara tentang bahaya rokok, baiknya kita lihat dulu alasan kenapa rokok itu disebut berbahaya bagi kesehatan. Maksudnya adalah, mari kita lihat zat berbahaya rokok yang akan mengganggu kesehatan dalam setiap isapan rokok.

A. Zat Berbahaya dalam Rokok

1. Nikotin
Zat ini mengandung candu bisa menyebabkan seseorang ketagihan untuk trus menghisap rokok

Pengaruh bagi tubuh manusia :

  • menyebabkan kecanduan / ketergantungan
  • merusak jaringan otak
  • menyebabkan darah cepat membeku
  • mengeraskan dinding arteri

2. Tar
Bahan dasar pembuatan aspal yang dapat menempel pada paru-paru dan bisa menimbulkan iritasi bahkan kanker

Pengaruh bagi tubuh manusia :

  • membunuh sel dalam saluran darah
  • Meningkatkan produksi lendir diparu-paru
  • Menyebabkan kanker paru-paru

3. Karbon Monoksida
Gas yang bisa menimbulkan penyakit jantung karena gas ini bisa mengikat oksigen dalam tubuh.

Pengaruh bagi tubuh manusia :

  • mengikat hemoglobin, sehingga tubuh kekurangan oksigen
  • menghalangi transportasi dalam darah

4. Zat Karsinogen
Pengaruh bagi tubuh manusia :

  • Memicu pertumbuhan sel kanker dalam tubuh

5. Zat Iritan

  • Mengotori saluran udara dan kantung udara dalam paru-paru
  • Menyebabkan batuk

Zat-zat asing berbahaya tersebut adalah zat yang terkandung dalam dalam ASAP ROKOK, dan ada 4000 zat kimia yang terdapat dalam sebatang ROKOK, 40 diantaranya tergolong zat yang berbahaya misalnya : hidrogen sianida (HCN) , arsen, amonia, polonium, dan karbon monoksida (CO).

B. Bahaya Rokok/Bahaya Merokok

1. Penyakit jantung

Rokok menimbulkan aterosklerosis atau terjadi pengerasan pada pembuluh darah. Kondisi ini merupakan penumpukan zat lemak di arteri, lemak dan plak memblok aliran darah dan membuat penyempitan pembuluh darah. Hal ini menyebabkan penyakit jantung.

Jantung harus bekerja lebih keras dan tekanan ekstra dapat menyebabkan angina atau nyeri dada. Jika satu arteri atau lebih menjadi benar-benar terblokir, serangan jantung bisa terjadi.

Semakin banyak rokok yang dihisap dan semakin lama seseorang merokok, semakin besar kesempatannya mengembangkan penyakit jantung atau menderita serangan jantung atau stroke.

2. Penyakit paru
Risiko terkena pneumonia, emfisema dan bronkitis kronis meningkat karena merokok. Penyakit ini sering disebut sebagai penyakit paru obstruktif kronik (PPOK).

Penyakit paru-paru ini dapat berlangsung dan bertambah buruk dari waktu ke waktu sampai orang tersebut akhirnya meninggal karena kondisi tersebut. Orang-orang berumur 40 tahun bisa mendapatkan emfisema atau bronkitis, tapi gejala biasanya akan*jauh lebih buruk di kemudian hari, menurut American Cancer Society.

3. Kanker paru dan kanker lainnya
Kanker paru2 sudah lama dikaitkan dg bahaya rokok, yang juga dapat menyebabkan terhadap kanker lain seperti dari mulut, kotak suara atau laring, tenggorokan dan kerongkongan. Merokok juga dikaitkan dengan kanker ginjal, kandung kemih, perut pankreas, leher rahim dan kanker darah (leukemia).

4. Diabetes
Merokok meningkatkan resiko terjadinya diabetes, menurut Cleveland Clinic. Rokok juga bisa naik menyebabkan komplikasi dari diabetes, seperti penyakit mata, penyakit jantung, stroke, penyakit pembuluh darah, penyakit ginjal dan masalah kaki.

5. Impotensi
Rokok merupakan faktor resiko utama untuk penyakit pembuluh darah perifer, yang mempersempit pembuluh darah yang membawa darah ke seluruh bagian tubuh. Pembuluh darah ke p3nis kemungkinan juga akan terpengaruh karena merupakan pembuluh darah yg kecil & dapat mengakibatkan disfungsi ereksi/impoten.

6. Menimbulkan Kebutaan
Seorang yang merokok menimbulkan meningkatnya resiko degenerasi makula yaitu penyebab kebutaan yang dialami orang tua. Dalam setudi yg diterbitkan dalam ‘Archives of Ophthalmology’ pada tahun 2007 menemukan yaitu orang merokok empat kali lebih mungkin dibanding orang yang bukan perokok untuk mengembangkan degenerasi makula, yg merusak makula, pusat retina, dan menghancurkan penglihatan sentral tajam.

7. Penyakit mulut

Penyakit mulut yang disebabkan oleh rokok antara lain kanker mulut, kanker leher, penyakit gigi, penyakit pada gigi dan nafas.

8. Gangguan Janin

Merokok berakibat buruk terhadap kesehatan reproduksi dan janin dalam kandungan dan kehamilan, termasuk infertilitas (kemandulan), keguguran, kematian janin, bayi lahir berberat badan rendah, dan sindrom kematian mendadak bayi.

9. Gangguan Pernafasan
Merokok meningkatkan risiko kematian karena penyakit paru kronis hingga sepuluh kali lipat. Sekitar 90% kematian karena penyakit paru kronis disebabkan oleh merokok.

Sebagai generasi muda bangsa yang dituntut lebih aktif dan berperan dalam negara, baiknya kita bisa memahami dan ikut mengkampanyekan ‘no smoking’ bukan hanya dihari kampanye 31 Mei, akan tetapi setiap hari dan setiap saat.

Mirisnya, saat ini Rokok sudah dikonsumsi oleh anak-anak dibawah umur dan sudah menjadi sebuah ‘keharusan’ dalam artian mereka sudah candu terhadap rokok tersebut. Mereka seakan terbebaskan oleh sebatang rokok yang mereka isap.

Jika saja anda adalah salah satu orang yang merokok aktif, cobalah untuk berhenti merokok dengan melakukan cara sebagai berikut. Hal penting yang harus dilakukan dalam berhenti merokok adalah NIAT yang sungguh-sungguh.

C.Cara Berhenti Merokok

1. Niat yang sungguh-sungguh untuk berhenti merokok.
2. Belajar membenci rokok
3. Bergaullah dengan orang yang tidak merokok
4. Sering-sering pergi ke tempat yang ruangannya ber-AC
5. Pindahkan semua barang-barang yang berhubungan dengan rokok.
6. Jika ingin merokok, tundalah 10 menit lagi.
7. Beritau teman dan orang terdekat kalau kita ingin berhenti merokok.
8. Kurangi jumplah merokok sedikit demi sedikit.
9. Hilangkan kebiasaan Bengong atau menunggu.
10. Sering-seringlah pergi ke rumah sakit, agar tau pentingnya kesehatan.
11. Cari pengganti rokok, misalnya permen atau gula.
12. Coba dan coba lagi jika masih gagal.

Semoga informasi tentang Bahaya Merokok atau Bahaya Rokok diatas bisa memeberikan kita pencerahan dan pemahaman yang lebih baik tentang dampak bahaya rokok.

0

Kenyamanan (Psikologis) dalam Lingkungan Pendidikan

Posted by Alexander saogo on 9 September 2013 in Artikel |

school

IKHTIAR pendidikan khususnya dalam proses pembalajaran dalam mengembangkan potensi siswa adalah hal yang sangat penting. Pendidik seharusnya menumbuhkan kesadaran bahwa semua peserta didik memiliki potensi yang jika dioptimalkan akan menghasilkan hasil pendidikan dalam bentuk prestasi akademik atau perkembangan kepribadian yang maksimal. Kita sadar, tidak sepenuhnya pendidikan memberikan hasil prestasi akademik yang membanggakan. Bahkan, sangat bisa jadi bahwa hasil yang dicapai adalah kematangan kepribadian. Ini bukan sebuah masalah serius. Artinya, siswa yang mungkin memiliki prestasi belajar rata-rata akan tetapi mampu mengembangkan kepribadian yang positif adalah hasil dari ikhtiar pendidikan yang sangat perlu kita syukuri bersama.

Sayangnya kadang kita sering terpatok pada target nilai sehingga siswa merasa tertekan dengan perilaku pendidik yang tidak mengapresiasi usaha yang telah dilakukan siswa. Kemampuan siswa memang dipupuk berda­sarkan bakat, minat, dan potensi masing-masing. Setiap siswa adalah berbeda dan karenanya tidak dapat disamaratakan, tidak dapat diberi beban tuntutan yang sama.peserta didik tidak hanya memerluka guru mata pelajaran yang cerdas dalam bidang tertentu. Akan tetapi, siswa juga memerlukan kenyamanan psikologis yang diciptakan pendidik di dalam kelas.

Conny S (1984) juga mengemuka­kan bahwa penciptaan kondisi ling­kungan yang kondusif bagi pengembangan kemampuan intelektual anak yang di dalamnya menyangkut keamanan dan kebebasan psikologis merupakan faktor yang sangat penting. Kondisi psikologis semacam itu diperlukan siswa agar siswa merasa nyaman belajar, diapresiasi, dapat menghargai diri sendiri dan orang lain, serta memiliki konsep diri yang positif. Kenyamanan psikologis itu ­diharapkan dapat membuat siswa merasa nyaman dalam belajar sehingga mampu menunjukkan performansi akademik yang lebih optimal.

Ada beberapa hal yang perlu diupayakan oleh pendidik terhadap siswanya. Pertama, pendidik menerima secara positif tanpa syarat kehadiran peserta didik. Bagaimana ciri menerima tanpa syarat? Pendidik menerima apapun kekurangan dan kelemahan peserta didik tanpa memberikan penilaian negatif. Pendidik harus memiliki sikap optimis bahwa banyakk hal bisa diubah dan dipelajari. Pada posisi ini, pendidik harus mampu menanamkan dalam jiwa peserta didik bahwa seluruh siswa memiliki kelebihan masing-masing yang jika dikembangkan akan mengantarkan pada pintu kesuksesan.

Kedua, pendidik menciptakan suasana yang nyaman, di mana peserta didik tidak terlalu banyak ‘dinilai’ sehingga rentan mengakibatkan siswa memiliki perasaan terancam. Senyatanya, memberikan penilaian dalam konteks pendidikan memang tidak dapat dhindarkan. Akan tetapi, pendidik bisa mengupayakan bahwa pemberian nilai tidak menghasilkan efek kecemasan peserta didik akan tetapi menumbuhkan semangat berkompetisi secara sehat dan sportif. Guru dalam hal ini sebaiknya tidak ‘mempermalukan’ nilai buruk siswa, akan tetapi menggantinya dengan upaya memotivasi siswa sehingga meskipun siswa merasa sedih dengan nilai yang ia dapatkan, siswa akan tetap merasa selalu memiliki kesempatan untuk memperbaiki segalanya.

Ketiga, pendidik sebaiknya me­ngembangkan perasaan empati dan memahami pikiran, harapan, dan perasaan siswa dari sudut pandang siswa sehingga siswa merasa dihargai, dan peserta merasa aman untuk me­nyampaikan ide, pertanyaan, usulan, dan lain sebagainya. Keempat, pendidik hendaknya berfokus pada apa yang dapat dilakukan siswa, dan bu­kan pada apa kesalahan yang dibuat siswa sehingga setiap siswa memiliki perasaan positif terhadap dirinya sendiri, atau bahkan pada orang lain.

Keempat, pendidik sebaiknya memberikan suasana psikologis yang aman bagi remaja untuk mengemukakan pikiran-pikirannya, ide, gagasan, jawaban atas permasalahan, keterbukaan perasaan sehingga siswa menjadi memiliki rasa percaya diri untuk mengungkapkan pemikiran atau jawaban atas permasalahan tertentu.

Pendidik juga perlu ‘dekat’ dengan siswa sesuai dengan tahap perkembangan remaja, sehingga dengan demikian relasi guru dan murid juga berupa sahabat, selain sebagai sosok yang dihormati dan disegani. Kehangatan guru, sangat dirindukan siswa sebagai sebuah dukungan yang bermakna untuk mengembangkan motivasi siswa. Akhirnya, kita ber­harap bahwa pendidik akan lebih memperhatikan kebutuhan psikologis siswa, di samping kebutuhan akan pemahaman materi yang lebih sungguh-sungguh dan total.

0

Mengupas Kembali Sejarah Sosial Pemikiran Politik Barat

Posted by Alexander saogo on 9 September 2013 in Artikel |

PEMIKIRAN politik Barat seringkali dipahami dan dipelajari secara parsial atau setengah-setengah. Baik dalam diskursus politik di tanah air maupun di kelas-kelas ilmu politik di negara industrialis maju, pemikiran politik Barat seringkali direduksi menjadi pengetahuan akan jargon-jargon belaka. Akibatnya, pemahaman  kita menjadi jargonistik dan ahistoris, memakai istilah-istilah seperti ‘hak,’ ‘negara,’ ‘kedaulatan,’ ‘kebebasan’ dan ‘kapitalisme’ tanpa memahami konteks historis dari istilah-istilah tersebut.

Di tengah-tengah kondisi tersebut, Ellen Meiksins Wood berusaha memberikan analisanya tentang Pemikiran Politik Barat melalui perspektif sejarah sosial dari Abad Renaisans hingga Abad Pencerahan. Buku ini, yang merupakan lanjutan dari buku Wood sebelumnya, yaitu Citizens to Lords, membahas berbagai pemikiran filsuf politik Barat, dari Machiavelli hingga Spinoza, dari Montesquieu hingga Locke dengan meletakkannya pada konteks sosio-historis pembentukan negara, perkembangan awal kapitalisme dan kelas borjuis, perebutan klaim kedaulatan, hingga benturan dan dialektika antara faktor-faktor ideasional dan material.

Kali ini, Wood berusaha membongkar mitos “keterkaitan” antara modernitas, kapitalisme, dan demokrasi. Menurut Wood, kapitalisme perlu dipahami sebagai bentuk perkembangan unik dari fase perkembangan modernitas Barat. Wood juga berpendapat bahwa secara historis, ada ketegangan yang tak terelakkan antara demokrasi dan kapitalisme – sebuah ketegangan yang juga belum terselesaikan hingga sekarang.

Transisi Historis Peradaban Barat: Menuju Modernitas atau Kapitalisme

Wood membagi bukunya dalam delapan bab yang disusun kurang lebih secara kronologis. Bab pertama membahas tentang debat-debat dalam transisi feodalisme ke kapitalisme, metode penafsiran sejarah pemikiran politik Barat, dan pentingnya sejarah sosial dalam membahas filsafat politik Barat. Bab kedua hingga ketujuh masing-masing membahas tentang sejarah pemikiran politik mulai dari masa Negara Kota Renaisans, Reformasi Protestan, Kekaisaran Spanyol, Republik Komersial Belanda, Absolutisme Perancis hingga Revolusi di Inggris. Di bab terakhir, Wood kembali menegaskan argumennya tentang ketegangan antara modernitas, kapitalisme, dan demokrasi serta implikasinya terhadap konteks sekarang ini.

Di bab pertama, Wood mengkritik dua tendensi dalam penulisan sejarah, yaitu pendekatan posmodernis dan revisionis. Dalam berbagai debat tentang penulisan sejarah, Wood menyadari bahwa ada sejumlah argumen yang menolak adanya sejarah dan karenanya mempertanyakan apa yang disebut sebagai modernitas. Wood mengritik tendensi tersebut karena menurutnya kesadaran historis itu penting untuk memahami kondisi masa kini yang bisa jadi merupakan hasil dari suatu proses sejarah yang panjang di masa lampau. Kesadaran akan proses dan konteks sejarah inilah yang digunakan Wood untuk membedah sejumlah pemikiran filsuf Barat dan meletakkannya pada konteks sosial di mana pemikiran-pemikiran tersebut lahir.

Namun, Wood juga mengingatkan kita akan satu hal: pentingnya memperhatikan keragaman kondisi di tiap-tiap tempat dan perkembangan zaman. Sejumlah hal yang perlu kita perhatikan dalam memahami sejarah sosial pemikiran politik Barat antara lain adalah kondisi tatanan sosial di masing-masing tempat, pola hubungan antara institusi kerajaan, kaum bangsawan, tuan tanah, dan rakyat (petani, kaum perempuan, pekerja, dan lain sebagainya), perebutan klaim atas kedaulatan, definisi akan konsep-konsep kunci dalam diskursus politik pada masa itu seperti ‘kebebasan,’ ‘rakyat,’ ‘kedaulatan,’ dan lain sebagainya

Bab kedua dibuka dengan pembahasan akan latar belakang sejarah Negara-Kota (City-State) di Italia. Di konteks Italia, sejumlah Negara-Kota Italia seperti Venesia dan Firenze menjadi pusat perdagangan dan juga kota penghubung jaringan perdagangan di Eropa pada masa itu. Namun, perlu diingat bahwa embrio kapitalisme modern sudah berkembang di Italia. Faktanya, sebagian besar pendapatan para penguasa seperti kaum bangsawan justru didapat dari kegiatan-kegiatan ‘ektra-ekonomi’ (‘extra-economic’ factors) seperti pajak dari para petani penggarap dan rakyat jelata serta fasilitas dan gaji dari jabatan negara. Kemudian, kota-kota seperti Venesia dan Firenze, karena kemajuan ekonominya, juga menghadapi tantangan militer dari negara-negara lain. Konteks inilah yang perlu dipahami dalam menganalisa pemikiran Machiavelli, terutama dalam dua karya utamanya yaitu The Prince dan The Discourses.

Pertanyaan politik terpenting bagi Machiavelli kira-kira adalah sebagai berikut: bagaimana seorang penguasa bisa mewujudkan ketertiban (order) sosial dan politik sekaligus mempertahankan kedaulatannya dari serangan musuh dari luar. Terlepas dari berbagai perdebatan dan kontroversi di seputar penggambaran Machiavelli baik sebagai perintis nilai-nilai ‘republikan modern’ sekaligus seorang ‘Machiavellian’ yang menghalalkan segala cara, Wood mencoba menelaah dua wajah dari pemikiran Machiavelli. Menurut Wood, dalam konteks politik domestik, sesungguhnya konsepsi politik Republikan ala Machiavelli lebih condong kepada tatanan politik yang memberikan ruang lebih besar kepada para warga negara dan membatasi kekuasaan kaum bangsawan atau aristokrasi. Dengan kata lain, pemikiran kenegaraan Machiavelli cenderung lebih demokratis dibandingkan oligarkis. Namun, dalam konteks kebijakan luar negeri, Machiavelli berpendapat bahwa Negara-Kota Italia perlu memiliki pertahanan dan militer yang kuat untuk menghadapi musuh-musuhnya – sebuah pemikiran yang juga menjadi dasar pemikiran Realisme modern dalam disiplin Hubungan Internasional.

Di Bab ketiga, Wood memfokuskan pembahasannya kepada pemikiran dua tokoh agama terkemuka di Eropa, Martin Luther dan John Calvin, dalam konteks Reformasi Protestan dan tantangan terhadap kekuasaan Gereja Katolik pada waktu itu. Dalam pemaparan kali ini, kita akan fokus kepada pemikiran Luther.

Martin Luther, sang reformer Protestan itu, berusaha menantang legitimasi Gereja sebagai perwakilan Tuhan di muka bumi. Menurut Luther, semua manusia, semua orang beriman, memiliki kesamaan derajat di depan Tuhan. Luther mengakui bahwa manusia memang cenderung akan tergelincir kepada perbuatan dosa, namun karena kesamaan derajat manusia dan kasih sayang serta pengampunan Tuhan yang universal, maka umat manusia akan diselematkan oleh Tuhan. Singkat kata, karena semua manusia sama derajatnya di depan Tuhan dan berhak mendapatkan ampunan-Nya, maka peranan Gereja sebagai perantara kehilangan legitimasinya. Inilah konsep teologi Luther yang terkenal dan kontroversial itu.

Namun, ini baru sisi lain. Dalam kaitannya dengan hubungan antara Gereja, mereka yang beriman, dan kekuasaan negara yang sekuler, Luther justru berpendapat bahwa mereka yang beriman harus tunduk terhadap kekuasaan negara yang sekuler, betapapun kejam dan sewenang-wenangnya kekuasaan negara, karena hanya dengan negaralah sebuah ketertiban sosial dapat terwujud. Luther memang menyebutkan bahwa orang-orang Kristen memiliki hak untuk melanggar aturan-aturan negara tatkala kekuasaan negara itu menyimpang terlalu jauh dari ajaran Kristen, tetapi itu tidak melegitimasi hak untuk memberontak terhadap negara tersebut – Luther justru menganjurkan kaum Kristiani untuk menerima hukuman dari negara apabila mereka menolak mematuhi aturan-aturan yang dianggap bertentangan dengan prinsip ajaran Kristen. Tetapi, dalam perkembangan selanjutnya, doktrin kesetaraan manusia di hadapan Tuhan dan ketaatan manusia pada Tuhan ala Luther justru menjadi justifikasi bagi berbagai pemberontakan petani di Eropa – suatu hal yang Luther sendiri tidak menghendakinya.

Dalam bab ini, Wood juga mencoba membongkar persepsi populer akan tesis Weberian tentang kapitalisme: bahwa ide-ide Protestanisme mempromosikan perkembangan kapitalisme di Eropa. Meskipun Wood berbeda pendapat dengan Max Weber mengenai perkembangan awal kapitalisme di Eropa, menurut Wood, Weber sendiri tidak pernah mengatakan bahwa ide-ide Protestanisme per se lah yang mendorong perkembangan kapitalisme. Menurut Wood, Weber mengakui bahwa embrio berupa perkembangan politik dan ekonomi yang kondusif terhadap perkembangan kapitalisme di Eropa sudah ada sebelum munculnya Protestanisme. Ide-ide Protestan hanya menjadi katalisator  bagi perkembangan dan penyebaran kapitalisme.

Bab keempat membahas tentang Kekaisaran Spanyol dan kolonialismenya. Para pemikir dan filsuf politik di Spanyol pada waktu itu berusaha menjawab berbagai permasalahan di seputar praktek kolonialisme Spanyol di Amerika Latin dan berbagai macam dampaknya. Di satu sisi, perebutan klaim atas kekuasaan politik dan keagamaan antara Kekaisaran Spanyol, kaum bangsawan dan pihak Gereja mendorong Spanyol untuk memperluas Kekaisarannya. Ketergantungan ekonomi Spanyol dengan berbagai sumber daya di tanah jajahannya seperti emas dan perak juga semakin meneguhkan pentingnya kolonialisme bagi ekonomi Spanyol. Namun, di sisi lain, Kekaisaran Spanyol juga memiliki kesulitan untuk menjustifikasi praktek kolonialismenya terhadap bangsa Indian di Amerika Latin, yang menurut banyak pemikir politik di Spanyol, juga memiliki peradaban yang sangat maju.

Dalam konteks inilah, berbagai pemikir dalam suatu aliran pemikiran yang disebut sebagai Mazhab Salamanca (Salamanca School) berusaha menanggapi berbagai dilema dalam praktek-praktek kolonialisme dan imperialisme Kekaisaran Spanyol. Mereka yang mendukung penjajahan Spanyol atas Amerika Latin mencetuskan doktrin ‘Perang Adil’ (Just War) sebagai dalilnya. Perang Adil berangkat dari asumsi bahwa Kekaisaran Spanyol memiliki misi untuk memajukan peradaban manusia dan menyebarkan agama Kristen. Bangsa Indian di Amerika Latin, betapapun majunya peradaban mereka, masih memeluk praktek-praktek ‘Pagan’ dan karenanya Kekaisaran Spanyol memiliki kewajiban untuk ‘menyebarkan’ agama Kristen dan membuat bangsa Indian menjadi ‘beradab’ – melalui praktek-praktek seperti pemindahan agama secara paksa, perampasan tanah-tanah adat bangsa Indian, dan eksploitasi tenaga kerja bangsa Indian di lahan-lahan pertanian dan tanah-tanah kaum penjajah Spanyol di Amerika Latin. Sebaliknya, mereka yang menentang praktek kolonialisme mengatakan bahwa sekalipun bangsa Indian bukanlah orang Kristen dan karenanya kaum ‘Pagan’ atau ‘Kafir’ (Heretic), peradaban Indian adalah peradaban yang maju dan karenanya Kekaisaran Spanyol tidak memiliki hak untuk menjajah mereka.

Bab kelima membahas tentang Republik Belanda, kebijakan perdagangannya, dan pengaruh dua hal tersebut pada tatanan dan pemikiran politik pada masa itu. Pertumbuhan kota-kota di Republik Belanda menjadikannya sebagai pusat perdagangan di Eropa pada masa itu. Bahkan, pertumbuhannya jauh lebih pesat dibandingkan dengan berbagai Negara-Kota di Italia. Tetapi, aktivitas komersial di Belanda berkembang pesat bukan karena aktivitas ekonomi kapitalis yang merespon impuls pasar, namun karena akvitas ‘ekstra-ekonomi’ sebagai perantara perdagangan (commercial mediators), alih-alih produsen (producers). Selain perdagangan, berbagai aktivitas ‘ekstra-ekonomi’ yang lain adalah ekspansi militer, pajak yang tinggi yang diperoleh dari rakyat, dan fasilitas yang tersedia untuk jabatan-jabatan negara. Aktivitas-aktivitas komersial dan ‘ekstra-ekonomi’ di Belanda dan juga Italia pada masa itu bukanlah akvititas ekonomi yang bersifat (proto-)kapitalis, karena aktivitas-aktivitas ini pada dasarnya kurang merespon impuls pasar dan tidak didorong oleh prinsip produksi yang kompetitif.

Liberty

Perubahan sosial ini, yang mengakibatkan bangkitnya sejumlah elit lokal, kemudian memunculkan persoalan baru: bagaimana ‘mendamaikan’ berbagai klaim atas kedaulatan negara dan hak-hak rakyat. Dalam konteks inilah, ide-ide resistensi dan tantangan terhadap kedaulatan dan kekuasaan institusi monarki atau kerajaan muncul. Tetapi, ide-ide resistensi ini bukan berarti melegitimasi usaha resistensi dari warga negara terhadap kekuasaan negara atau kerajaan. Bagi banyak filsuf politik pada masa itu, warga negara atau rakyat secara individual tidak memiliki legitimasi untuk mewakili dirinya sendiri dalam politik – ia harus direpresentasikan oleh institusi kolektif yang mewakili kekuatan politik lokal (lesser magistrates) seperti kaum bangsawan, badan-badan korporasi, maupun pejabat lokal.

Implikasi perubahan sosial ini dalam tataran filsafat politik sangatlah menarik. Ada pemikir seperti Hugo Grotius misalnya, bapak hukum internasional, yang mencetuskan konsep tentang hak-hak korporasi internasional, dalam konteks ini yaitu East India Company atau VOC, sebagai individu di dalam hukum internasional. Grotius juga memberikan dalil-dalil yang melegitimasi kolonisasi sejumlah tanah dan sumber daya di negara-negara lain – yang nantinya menjadi tanah jajahan Belanda. Ada juga pemikir seperti Spinoza, yang mendobrak ‘transendensi’ dalam konsepsi kekuasaan politik. Ketika banyak filsuf politik berpendapat bahwa kekuasaan politik bersumber dari ‘luar’, dari institusi kerajaan, Tuhan, atau suatu tatanan hukum alam misalnya, dan karenanya meniscayakan kekuasaan yang absolutis, Spinoza berpendapat bahwa sumber kekuasaan berasal dari rakyat, warga negara, sebagai kumpulan individu yang menempati negara itu sendiri – dengan kata lain, sumber kekuasaan yang bersifat ‘imanen’, dari rakyat, alih-alih transenden. Terlepas dari kecenderungan Spinoza untuk membatasi implikasi transformatif dari konsepsinya tentang sumber kekuasaan yang imanen, ide imanensi kekuasaan ala Spinoza merupaka gebrakan yang radikal dan demokratis pada zamannya – dan menjadi sumber inspirasi bagi sejumlah pemikir Marxis kontemporer seperti Etienne Balibar, Michael Hardt, dan Antonio Negri.

Bab keenam dan ketujuh membahas tentang sejumlah pemikir politik terkemuka dalam konteks Absolutisme Negara di Perancis dan Revolusi di Inggris. Kontras antara kondisi sosial-politik di Perancis dan Inggris dapat membantu kita memetakan perbedaan corak pemikiran politik di antara kedua negara tersebut. Di Perancis, terdapat ketegangan politik antara institusi negara atau monarki yang ingin memperbesar kekuasaan absolutisnya versus kaum bangsawan dan tuan tanah yang ingin melawan kecenderungan tersebut. Di Inggris, sebaliknya, terdapat institusi negara yang sudah kuat sebagai hasil kompromi dan kerja sama antara pihak monarki dan aristokrasi. Kemudian, di Perancis, kaum petani atau peasantry cenderung bebas, dan meskipun para tuan tanah serta negara tetap berusaha untuk mengeksploitasi kaum petani melalui pajak dan iuran, tuan tanah dan bangsawan di Perancis lebih tertarik untuk memperkaya diri mereka melalui jalur ‘ekstra-ekonomi’ yang disediakan oleh negara. Sebaliknya, di Inggris, sebagian besar tanah dikuasai oleh para tuan tanah dan para bangsawan yang merespon impuls pasar, impuls komersial di masa proto-kapitalisme. Persaingan antara para tuan tanah di Inggris dalam memperkaya diri mereka membuat para tuan tanah berusaha menerapkan strategi pertanian yang meningkatkan produktivitas dan efisiensi produk pertanian – suatu strategi yang kemudian melahirkan kapitalisme agraria di Inggris.

Sejumlah pemikir dibahas di dua bab ini, mulai dari Montesquieu, Jean Bodin, Rousseau, Hobbes, dan Locke. Namun kita hanya akan membahas Rousseau dan Locke kali ini, sekaligus membongkar persepsi populer atas karya-karya mereka. Rousseau yang seringkali dituduh memiliki kecenderungan totaliter dalam karya-karyanya, justru merupakan pemikir yang paling berani menggugat kecenderungan absolutisme negara di Perancis. Keunikan pemikiran Rousseau adalah analisanya yang jeli akan negara absolutis di Perancis sebagai bagian dari dan bukan solusi atas masalah eksploitasi terhadap rakyat terutama kaum petani penggarap. Meskipun solusi yang diajukan oleh Rousseau jelas adalah sebuah solusi utopis – komunitas petani yang bebas dari eksploitasi dan bebas menentukan proses produksi di antara mereka sendiri – Rousseau merupakan salah satu pemikir pertama yang menyadari persoalan eksploitasi dalam politik dan solusi atasnya. Sebaliknya, Locke, yang seringkali dianggap sebagai pencetus egalitarianisme dan konsep ‘pemerintahan yang terbatas’ (limited government) justru memiliki kecenderungan anti-demokratik. Ide kepemilikan pribadi sebagai hak alamiah (private property as natural rights) justru bersifat ahistoris, karena kepemilikan pribadi sesunguhnya merupakan produk sejarah dan kreasi institusional manusia, dan cenderung memarginalkan sejumlah kelompok masyarakat, seperti perempuan, pekerja, para petani penggarap dalam proses demokrasi yang lebih luas dan popular, atas nama ‘pemerintahan yang terbatas.’

Bab kedelapan atau yang terakhir merupakan ulasan singkat dan afirmasi Wood atas tesis utamanya: bahwa sejarah modernitas melahirkan kapitalisme, sebuah momen sejarah yang memiliki ketegangan yang inheren dengan demokrasi dan menghambat proses demokrasi yang lebih luas dan radikal.

Ulasan Kritis

Karya Wood kali ini, seperti karyanya yang sebelumnya, patut mendapatkan apresiasi.

Pertama, pendekatan historiografi Wood atas pemikiran politik Barat perlu diacungi jempol. Kemampuannya untuk memberikan narasi yang lengkap dan utuh, tanpa terjebak dalam penulisan sejarah yang ‘teleologis’ dalam artinya yang simplistis dan normatif adalah keunggulan pendekatannya. Dalam hal ini, Wood menunjukkan keahliannya sebagai seorang ahli politik yang membahas sejarah sosial dari ide-ide politik.

Kedua, Wood juga berhasil menunjukkan bahwa baik faktor ideasional maupun faktor material sama-sama penting dan keduanya sama-sama membentuk proses sejarah. Dari perspektif historiografi Marxis, Wood tentu ingin menunjukkan bagaimana faktor material terutama kontestasi kelas membentuk faktor-faktor ideasional yang mempengaruhi corak pemikiran berbagai filsuf politik di Eropa pada masa awal era modern. Namun, Wood juga tidak abai dengan kekuatan ide dalam menggerakkan aktor-aktor sejarah seperti para tuan tanah dan petani serta implikasi ide-ide tersebut dalam perkembangan sejarah.

Dalam hal ini, Wood bisa dikatakan berhasil menyajikan suatu pendekatan sejarah sosial pemikiran politik Barat, suatu historiografi Marxis atas pemikiran politik Barat, tanpa terjebak dalam historisisme, idealisme, voluntarisme naïf, maupun partikularisme yang ahistoris.

Ketiga, Wood juga berhasil membongkar mitos akan dua hal: pertama, persepsi populer atas karya-karya pemikiran politik Barat dan kedua, persepsi populer atas konsep-konsep politik modern. Dua persepsi ini cenderung tergelincir dalam pandangan-pandangan yang ahistoris. Pemikiran John Locke dan Montesequieu misalnya, dalam banyak hal justru tidak begitu demokratis karena keberpihakannya atas institusi-institusi serta kolektif-kolektif dan marginalisasinya atas hak-hak invidivual warga negara serta abainya dua pemikir tersebut atas eksploitasi politik, ekonomi, dan sosial. Konsep-konsep politik modern seperti “hak”, “kebebasan”, “rakyat” juga perlu diletakkan dalam konteks historis – apakah kita berbicara kebebasan bagi para pemilik modal dan tanah saja? Apakah kita akan menegasikan hak-hak politik yang bersifat ekstra-parlementer? Kesadaran historis akan konsep-konsep ini perlu dikembalikan dalam diskursus politik kita – satu hal yang berhasil dilakukan oleh Wood.

Namun demikian, apresiasi ini tidak menghalangi kita untuk memberikan sejumlah kritik atas karyanya.

Pertama, dalam hal metode, meskipun inovatif, metode sejarah sosial atas pemikiran politik Barat dapat membingungkan pembaca dan pengkaji ilmu sosial serta humaniora karena fokusnya yang terbelah: Apakah fokus karya ini ke konteks transisi feodalisme ke kapitalisme? Atau bagaimana ide-ide para filsuf politik berkembang dalam konteks tersebut? Di beberapa bagian, sepertinya penjelasan tentang bagaimana suatu pemikiran politik lahir dalam suatu konteks sosial-politik agak hilang atau kurang jelas. Ini tentu akan menyulitkan pembaca, tidak hanya bagi pembaca pemula, namun juga bagi para pengkaji yang sudah berkecimpung dengan isu-isu seperti ini setelah sekian lama.

Kedua, metode ini sesungguhnya dapat dikembangkan lebih jauh lagi, menjadi semacam kajian sejarah komparasi atau sejarah konektif atas sejarah sosial pemikiran politik Barat di konteks Eropa. Bahkan, proyek intelektual ini dapat diteruskan dalam konteks interaksi antara masyarakat Barat dan non-Barat. Metode historiografi Wood yang memberikan porsi yang adil baik terhadap faktor-faktor ideasional maupun material sesungguhnya memiliki potensi untuk melakukan studi yang tersebut di atas.

Ketiga, dan yang terakhir, lebih merupakan kritik yang sifatnya teknis. Beberapa penjelasan di dalam buku ini cenderung diulang-ulang, misalnya pembahasan tentang pertarungan antara berbagai klaim kedaulatan oleh berbagai entitas atau implikasi sosial politik dari konsep tentang hukum alam sebagai dalil atas kekuasaan dan kedaulatan. Kemudian, beberapa pemaparan Wood tentang transisi dari feodalisme ke kapitalisme bisa dikatakan tidak ada yang baru, kecuali dalam kaitannya dengan perkembangan pemikiran politik Barat.

Kesimpulan

Sebagaimana karya Wood yang sebelumnya, dapat dikatakan bahwa karya Wood patut dijadikan rujukan bagi para pengkaji dan penggerak gagasan Kiri dan ilmu sosial serta humaniora pada umumnya. Topik-topik yang dibahas Wood dalam bukunya kali ini juga merupakan topik-topik besar yang perlu dipelajari bagi para ilmuwan dan penggerak sosial, seperti persoalan negara, evolusi konsep kepemilikan pribadi, implikasi sosial politik dari perkembangan sebuah ide, pertautan antara hubungan tuan tanah dan kaum tani dengan ide-ide tentang kewarganegaraan dan proses-proses politik, dan lain sebagainya. Buku ini juga dapat dijadikan sebagai penangkal atas mitos bahwa modernitas, nilai-nilai borjuis, kapitalisme, dan demokrasi adalah hal-hal yang datang dalam satu paket. Buku ini juga mengingatkan kita bahwa ide-ide tidak muncul dari suatu kevakuman sejarah, namun merupakan hasil dari proses sejarah dan material yang membentuknya.

 

0

Pandangan Masyarakat Mengenai Politik

Posted by Alexander saogo on 9 September 2013 in Artikel |

images

Istilah Politik sering kita dengar baik di dalam tulisan, majalah, buku, surat Kabar maupun artikel. Tetapi masyarakat awam menyatakan bahwa politik itu identik dengan kelicikan dan menjurus kesisi atau pola yang negatif dalam kehidupan sosial. Namun hakekat politik itu sendiri belum ada yang merefleksikannya secara jelas dan masih bersifat abstrak. Dalam buku karangan Miriam Budihardjo (1998) menyatakan bahwa politik (politics) adalah macam-macam kegiatan dalam sistem politik (atau negara) yang menyangkut proses-proses menentukan tujuan dari sistem itu dan melaksanakan tujuan itu. Jadi intinya adalah suatu tujuan dan melaksanakan tujuan tersebut dalam suatu sistem politik melalui proses menentukan tujuan yang elegan. lasswell (1998) menjelaskan bahwa politik, siapa mendapatkan apa, kapan dan bagaimana.

Pemahaman tentang politik dapat kita lakukan sebuah perbandingan dan merfleksikan tentang dimensi politik itu sendiri. Maciavelli (2002) sendiri menyatakan bahwa politik merupakan suatu skema dengan menghalalkan berbagai cara untuk meraih kekuasaan. Pemahaman tentang politik itu sendiri masih belum jelas di dalam masyarakat. Dimensi politik mempunyai banyak perbincangan dan ragam tatanan yang diperbincangkan mulai dari wilayah, negara, kekuasaan, demokrasi, dan berbagai hal lainnya sehingga menjadi bidang keilmuan yang penting dalam disiplin ilmu sosial.

Bandingkan saja pemikiran para intelektual dengan politisi. Kita pasti menemukan pandangan serta pemahaman yang berbeda tentang dimensi politik. Berbicara politik pasti bersinggungan dengan aspek negara. Setiap kalangan mempunyai pandangan yang berbeda dalam dimensi politik. Misalnya saja para mahasiswa atau para intelektual menyatakan bahwa politik adalah suatu dimensi ilmu yang membahas tentang aspek negara, kekuasaan, dan bagimana cara meraih serta mempertahankannya demi mewujudkan tujuan bersama. Pandangan para politisi dalam dimensi politik itu merupakan sebuah mekanisme atau cara meraih kekuasaan dan mempertahankannya melalui kompetisi dalam sebuah partai politik untuk masyarakat. Pemahaman politik tersebut menjadi beragam intinya kalau para akademisi maupun kaum intelektual beranggapan bahwa negara dan tujuan bersama harus diwujudkan. Sementara para politisi beranggapan bahwa politik merupakan cara meraih kekuasaan serta mempertahankannya.

Berbeda dengan masyarakat yang beranggapan bahwa politik menjurus ke hal yang sifatnya negatif. Ironis memang bahwa dimensi politik itu dianggap oleh masyarakat merupakan tatanan yang sangat buruk dan sifatnya destruktif. Idealnya pemahaman politik harus ditanggapi secara positif dan bukan malah sebaliknya. Memang dimensi politik itu harus kita pilah-pilah mana yang bersifat baik dan tidak, umpama implementasi dilapangan sangat bertolak belakang dengan disiplin ilmunya sendiri. Memang politik tentunya boleh diamalkan oleh siapa saja yang mempelajarinya, tetapi celakanya pelaksanaan dilakukan secara instan atau mendapatkan pendidikan politik dalam organisasi secara praktis.

Kita anggap bahwa politik itu identik dengan kekejaman dan kelicikan namun kita tidak pernah menelusuri apa dan bagaimana dimensi politik itu sebenarnya dan hakekatnya bagi kemajuan sebuah negara. Kita coba refleksikan secara empiris antara aktor sebagai pelaku dengan politik itu sendiri mana yang lebih dominan penuh dengan sisi positif serta negatifnya. Kemudian coba realisasikan secara rasional dengan pemahaman masyarakat saat ini tentang politik itu sendiri. Tentunya kita dapat menarik kesimpulan bahwa politik itu hanya sebuah skema dalam keilmuan sementara arah politik itu sendiri dilakukan oleh aktor selaku pelaksana. Aktor ini yang mungkin membawa dan mengarahkan politik itu menuju sisi positif atau negatif.

Jelas sudah bahwa pemahaman tentang dimensi politik karena sisi pengaruh negatif dijalankan oleh para politisi maupun aktor yang menjalankan politik itu sendiri. Memang bagi kaum intelektual dan politisi dapat memahami dimensi politik itu sendiri, namun para ilmuwan sosial dan sarjana politik sendiri lebih memahami serta menggali tentang politik secara mendalam serta dapat memberikan konsep-konsep politik yang ideal bagi negara. Pemahaman masyarakat mengenai politik sangat instan dan belum mengetahui secara jelas dan gamblang sehingga dimensi politik hanya dipandang dari sisi negatif saja.

Dimensi politik ini sangat penting dipahami oleh masyarakat karena menjadi acuan dalam melakukan proses pembangunan politik. Karena apabila masyarakat tidak memiliki kecerdasan dalam berpolitik maka perubahan sampai kapan pun tidak akan pernah ada. Pandangan politik harus benar-benar jelas dan tidak Cuma dilihat dari segi buruknya saja namun ada juga sisi baiknya, jika kita melihat negara, kekuasaan demokrasi dan konsep lainnya. Jadi pemahaman tentang politik pada masyarakat bisa mencerdaskan mereka serta dapat mengaktualisasikan diri pada isu-isu politik yang muncul secara kontemporer.

Masyarakat sebenarnya belum mendapatkan pendidikan politik dari para politisi yang sekarang menjadi pemimpin maupun wakilnya di parlemen. Maka para politisi harus melakukan sosialisasi terhadap masyarakat sehingga masyarakat menjadi cerdas serta mau berpartisipasi dalam politik. Para ilmuwan dan para akademisi maupun mahasiswa juga harus memberi pemahaman tentang politik pada masyarakat. Hal ini sangat penting dalam memunculkan partisipasi politik dalam diri masyarakat sehingga realisasi pembangunan politik dapat terlaksana dengan baik.

Politik yang cerdas menjadikan masyarakat tanggap serta memberikan kontribusi bagi negara dalam membangun kesejahteraan dan kemakmuran bersama.Jika masyarakat berpartisipasi politik maka akan terwujudnya perubahan yang diinginkan serta dapat dirasakan bersama. Setelah memahami tentang politik tersebut masyarakat akan lebih cerdas dalam melakukan langkah-langkah secara politis. Dalam sosialisasi pemilu sering dikatakan bahwa satu suara menentukan nasib bangsa. Maka pemahaman politik itu dapat memicu timbulnya partisipasi atau keterlibatan masyarakat secara aktif dalam politik praktis semoga.

0

LAPORAN PRAKTIKUM AGH 200 DASAR-DASAR AGRONOMI DOSIS PEMUPUKAN NITROGEN PADA DUA VARIETAS JAGUNG

Posted by Alexander saogo on 30 Agustus 2013 in Tugas - Tugas |

LAPORAN PRAKTIKUM AGH 200 DASAR-DASAR AGRONOMI

 DOSIS PEMUPUKAN NITROGEN PADA

DUA VARIETAS JAGUNG

 Oleh

Kelompok I

  1. Zahra Kartika                             A14110026
  2. Siti Wulandari                            A14110073
  3. Niken Ratna Handayani         A14110091
  4. Aziz Kirom Siregar                    A14110092
  5. Lina Fadhliatul Jannah           A34110012
  6. Anggun Sasmita                         A34110040
  7. Khoirunnisa Nasution             A34110084
  8. Eka Pratiwi                                A34110087
  9. Alexander                                  A34110093
  10. Mazaya Ghaisani                     F24100027
  11. Amellia                                       G84110086

 Hari Praktikum:

Rabu

2

DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012

BAGIAN I . PERCOBAAN

KATA PENGANTAR

 Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena telah diberikan rahmat dan nikmatnya-Nya sehingga dapat menyelesaikan laporan Dasar-Dasar Agronomi ini dangan baik.

Laporan ini berisi tentang kegiatan praktikum yang berlangsung di Leuwikopi, Cikarawang dan Cikabayan. Kegiatan praktikum yang berlangsung di Leuwikopo berupa penanaman tanaman jagung mulai dari pembersihan lahan, perawatan lahan dan tanaman jagung sampai tanaman jagung siap dipanen. Kegiatan yang berlangsung di Cikarawang berupa pengenalan tanaman hortikultura sedangkan yang berlangsung di Cikabayan berupa pembibitan tanaman kopi.

Terima kasih kepada para Tim Pengajar Dasar-Dasar Agronomi beserta staff yang membantu terlaksananya kegiatan praktikum Dasar-Dasar Agronomi yang telah memberikan penjelasan saat akan dilaksanakannya praktikum, baik di Leuwikopo, Cikarawang maupun di Cikabayan.

Tidak ada gading yang retak. Itulah peribahasa yang menjelaskan bahwa tidak ada satupun yang sempurna kecuali Yang Maha Sempurna. Begitu pula dengan laporan Dasar-Dasar Agronomi ini. Kritik dan saran sangat diharapkan agar bisa menjadi lebih baik ke depannya.

 Bogor,  Januari 2013

 Tim Penyusun

 

DAFTAR   ISI

 BAGIAN  I . PERCOBAAN ………………………………………………………………. i

KATA  PENGANTAR………………………………………………………………………. i

DAFTAR  ISI ………………………………………………………………………………….. ii

DAFTAR  TABEL……………………………………………………………………………. iii

DAFTAR  GAMBAR………………………………………………………………………… iv

I . PENDAHULUAN ………………………………………………………………………… 1

1 .1 .LatarBelakang…………………………………………………………………….. 1

1 .2 .Tujuan………………………………………………………………………………. 2

II .TINJAUAN  PUSTAKA………………………………………………………………… 3

2 .1 .TanamanJagungManis………………………………………………………….. 3

2 .2 .Morfologidananatomitanamanjagungmanis……………………………… 3

2 .3 .Pupuk  nitrogen…………………………………………………………………… 5

III .BAHAN  DAN  METODE …………………………………………………………… 6

3 .1 .Tempatdanwaktu………………………………………………………………… 6

3 .2 .Bahandanalat……………………………………………………………………… 6

3 .3 . Cara pelaksanaan……………………………………………………………….. 6

IV .HASIL  DAN  PEMBAHASAN ……………………………………………………. 10

4 .1 .Hasil…………………………………………………………………………………. 10

4 .2 .Pembahasan……………………………………………………………………….. 15

V .KESIMPULAN  DAN  SARAN ……………………………………………………… 19

DAFTAR  PUSTAKA…………………………………………………………………… 20

BAGIAN  II . PEMBIBITAN  TANAMAN  KOPI ………………………………… 21

I . PENDAHULUAN  ……………………………………………………………………….. 21

1 .1 .Latarbelakang…………………………………………………………………….. 21

1 .2 .Tujuan………………………………………………………………………………. 21

II .METODE  PELAKSANAAN………………………………………………………….. 22

2 .1 .Tempatdanwaktu………………………………………………………………… 22

2 .2 .Bahandanalat……………………………………………………………………… 22

3 .3 .Cara pelaksanaan………………………………………………………………… 22

III .HASIL  DAN  PEMBAHASAN …………………………………………………….. 23

3 .1 .Hasil…………………………………………………………………………………. 23

3 .2 .Pembahasan……………………………………………………………………….. 24

IV .KESIMPULAN  DAN  SARAN…………………………………………………….. 26

DAFTAR  PUSTAKA…………………………………………………………………. 27

BAGIAN  III . IDENTIFIKASI  TANAMAN  PERKEBUNAN ……………….. 28

I . PENDAHULUAN ………………………………………………………………………… 28

1 .1 .Latarbelakang…………………………………………………………………….. 28

1 .2 .Tujuan………………………………………………………………………………. 28

II .METODE  PELAKSANAAN………………………………………………………….. 29

2 .1 .Tempatdanwaktu………………………………………………………………… 29

2 .2 . Cara pelaksanaan……………………………………………………………….. 29

III .HASIL  DAN  PEMBAHASAN …………………………………………………….. 30

3 .1 .Hasil…………………………………………………………………………………. 30

3 .2 .Pembahasan……………………………………………………………………….. 31

IV .KESIMPULAN  DAN  SARAN ……………………………………………………. 33

DAFTAR  PUSTAKA…………………………………………………………………. 34

BAGIAN  IV . BUDIDAYA  TANAMAN  SAYUR – SAYURAN  DALAM  NETHOUSE , CIKARAWANG           35

I . PENDAHULUAN ………………………………………………………………………… 36

1 .1 .Latarbelakang…………………………………………………………………….. 36

1 .2 .Tujuan………………………………………………………………………………. 36

II .METODE  PELAKSANAAN………………………………………………………….. 37

2 .1 .Tempatdanwaktu………………………………………………………………… 37

2 .2 .Cara  pelaksanaan……………………………………………………………….. 37

III .HASIL  DAN  PEMBAHASAN …………………………………………………….. 38

3 .1 .Hasil…………………………………………………………………………………. 38

3 .2 .Pembahasan……………………………………………………………………….. 38

IV .KESIMPULAN  DAN  SARAN ……………………………………………………. 41

DAFTAR  PUSTAKA……………………………………………………………………….. 42

 DAFTAR TABEL

 Data HasilPanenJagungVarietas Pertiwi……………………………………………… 11

JumlahDaundanTinggiTanamanTanamanJagung J1N1 pada 10 MST……… 12

Data Pengamatanpadaperlakuan J2N1……………………………………………….. 14

Data Pengamatan pada Perlakuan J2N2……………………………………………… 14

Data Ketinggianmasing-masingbibitpadasetiap polybag……………………….. 23

 DAFTAR GAMBAR

 Jagung……………………………………………………………………………………………. 1

StrukturBijiJagung…………………………………………………………………………… 4

Minggu Ke-2 SetelahTanam……………………………………………………………… 10

Ladang  jagung   J1N1……………………………………………………………………… 10

KelobotJagung………………………………………………………………………………… 10

Ladang Jagung J1N1……………………………………………………………………….. 10

Jagung yang SudahPanen…………………………………………………………………. 10

DenahPetakPercobaan……………………………………………………………………… 11

JarakTanaman per Petak……………………………………………………………………. 11

Tanaman Kopi Robusta…………………………………………………………………….. 23

Karet (Heveabrasiliensis)………………………………………………………………….. 23

TanamanTeh(Camellia sinensis)…………………………………………………………. 23

Kakao (Theobroma cacao)……………………………………………………………….. 23

Kelapa(Coco nucifera)……………………………………………………………………… 23

PohonKelapaSawit…………………………………………………………………………… 23

Kopi (Coffea sp.)……………………………………………………………………………… 23

I .PENDAHULUAN

1.1    Latar Belakang

Mata kuliah Dasar-Dasar Agronomi merupakan mata kuliah yang berisikan tentang pengenalan budidaya tanaman secara keseluruhan. Agronomi sendiri berarti lmu yang mempelajari cara pengelolaan tanaman pertanian dan lingkungannya untuk memperoleh produksi maksimum dan lestari (berkelanjutan). Agronomi membahas tentang pengelolaan (manajementanaman), kelestarianlingkungan, hasilproduksi dan tanamanpertanian. Budidaya tanaman merupakan salah satu cara untuk meningkatkan hasil produksi dan memperbaiki varietas. Pengelolaannya berupamerekayasalingkungantumbuh, genetik dan fisiologi. Tujuan dari budidaya tanaman ini adalah untuk memenuhi kebutuhanpangan, sandang, bahanbakuindustri, obat-obatandanrempah serta keyamananhidup. Hasil daripada tanaman berupa Biji, buah, bunga, umbi, daun, batang, akar, zat ataubahantertentusepertigetah, zatwarna, keindahan dan kenyamanan. Menurut Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian (2011) yang termasuk tanaman yang biasa dibudidayakan jagung, kacang kedelai, kacang tanah, cabai, pisang, nangka, jeruk, tomat dan bengkuang. Orientasibudidayatanamanadalahproduksimaksimum dan sistemproduksi yang berkelanjutan. Sistem produksi yang berkelanjutan ini meliputi Konservasiproduktivitaslahan, konservasi plasma nutfah dan penekanansumbersemuaorganismepengganggu. Selain teori yang didapatkan di kuliah, Dasar-Dasar Agronomi ini mempunyai praktikum. PraktikumDasar-DasarAgronomimerupakankegiatan di lapangan yang berisikan materi identifikasi dan praktik kegiatan budidaya tanaman. Melalui praktikum ini mahasiswa akan memperoleh pengalaman empiris melakukan kegiatan mulai dari pengenalan tanaman, prinsip-prinsip penggunaan sarana produksi (benih, pupuk, pestisida), penanaman benih, pembibitan tanaman, pemeliharaan tanaman yang meliputi penyulaman, penyiraman, pemupukan, pengendalian hama penyakit dan pengendalian gulma serta pemanenan.

1.1    Tujuan

Tujuan dari praktikum Dasar-Dasar Agronomi adalah sebagai sarana mahasiswa untuk dapat menjelaskan prinsip-prinsip dasar dalam budidaya tanaman, menentukan tahapan kerja dalam budidaya tanaman, mendapatkan pengalaman empiris melakukan praktik budidaya tanaman, menjelaskan fase-fase pertumbuhan dan perkembangan tanaman serta peranan faktor produksi dan tindakan budidaya terhadap pertumbuhan dan produksi tanaman. Selain itu juga, mahasiswa dapat menentukan dan menghitung kebutuhan sarana produksi seperti benih, pupuk, pestisida dan alat mesin pertanian.

 II .TINJAUAN PUSTAKA

 2.1  Tanaman Jagung Manis

Jagung manis atau sweet corn (Zea mays saccharata Sturt.) termasuk ke dalam familiGramineae subfamili Panicoidae. Berdasarkan tipe pembungaannya jagung manis termasuk tanaman monoecius yaitu memiliki bunga jantan dan betina pada satu tanaman. Bunga jantan tumbuh di bagian puncak tanaman berupa karangan bunga (inflorescence), sedangkan bunga betina tersusun dalam tongkol yang terbungkus oleh cangkang yang umum disebat ”kelobot” dengan rambut jagung yang sebenarnya merupakan tangkai putik (Fitriani 2009). Jagung manis pada awalnya berkembang dari jagung tipe dent dan flint. Jagung tipe dent (Zea mays identata) mempunyai lekukan di puncak bijinya karena adanya zat pati keras pada bagian pinggir dan pati lembek pada bagian puncak biji. Jagung tipe flint (Zea mays indurata) berbentuk agak bulat, bagian luarnya keras dan licin. Dari kedua tipe jagung inilah jagung manis berkembang kemudian terjadi mutasi menjadi tipe gula yang resesif (Fitriani 2009).

2.2  Morfologi dan Anatomi Jagung Manis

Secara fisik maupun morfologi tanaman jagung manis sulit dibedakan dengan jagung biasa. Perbedaan biasanya terletak pada warna bunga jantan dan rambut bunga betina. Bunga jantan pada jagung manis berwarna putih sedangkan pada jagung biasa berwarna kuning kecoklatan. Rambut pada jagung manis berwarna putih sampai kuning keemasan sedangkan pada jagung biasa berwarna kemerahan. Selain itu, jagung manis memiliki dua atau tiga daun yang tumbuh di ujung kelobot terluar dan umurnya lebih genjah dibandingkan dengan jagung biasa (Fitriani 2009). Biji jagung berbentuk bulat dan melekat pada tongkol jagung. Susunan biji jagung pada tongkolnya berbentuk spiral. Biji jagung selalu terdapat berpasangan, sehingga jumlah baris atau deret biji selalu genap. Warna biji jagung bervariasi dari putih, kuning, merah, ungu, sampai hitam (Atmadja 2006). Biji jagung dapat dibagi menjadi empat bagian, yaitu kulit (pericarp), endosperma, lembaga (germ), dan tudung pangkal (tip cap), pericarp merupakan lapisan pembungkus biji jagung yang tersusun dari jaringan yang tebal. Ketebalan pericarp bervariasi dari 62-160 μm tergantung genotipnya. Pericarp terdiri dari beberapa bagian, yaitu epidermis (lapisan paling luar), mesokarp (lapisan paling tebal), cross cells, tube cells, dan tegmen (seedcoat). Endosperma merupakan bagian terbesar dari biji jagung, yaitu 82-84% dari berat biji. Endosperma juga mengandung sekitar 86-89% pati sebagai cadangan energi. Lapisan terluar dari endosperma adalah aleuron yang menyelubungi bagian starchy endosperm dan lembaga. Pada biji jagung jenis dent dan flint terdapat 1-3 lapis sel di bawah aleuron yang disebut subaleuron atau peripheral endosperm. Lapisan ini mengandung sangat sedikit granula pati yang dikelilingi oleh matriks protein yang sangat tebal. Bagian starchy endosperm terdiri dari endosperma keras (horny endosperm) dan endosperma lunak (flouryendosperm). Bagian endosperma keras mengandung matriks protein yang lebih tebal dan lebih kuat dibandingkan endosperma lunak. Sedangkan endosperma lunak mengandung pati lebih banyak dan susunan pati tersebut tidak serapat seperti pada bagian yang keras (Putra 2008).

2.3  Pupuk Nitrogen

Tanaman jagung membutuhkan unsur hara nitrogen (N), posfor (P) dan kalium (K) dalam jumlah yang banyak untuk dapat tumbuh dan menghasilkan dengan baik. Jagung merupakan tanaman yang sangat respon terhadap pemupukan N, sehingga kekurangan N merupakan faktor kedua yang dapat menyebabkan kegagalan hasil pada tanaman jagung. Hal ini disebabkan karena N diperlukan sebagai bahan penyusun enzim dan protein dalam tanaman, sehingga kekurangan N akan dengan cepat menekan perkembangan daun dan biji. Sebagai sumber nitrogen (N) adalah pupuk urea. Pupuk N diberikan 30% segera setelah tanaman tumbuh, yaitu 7 hari sesudah tanam (hst), 40% pada fase vegetatif (V6), dan 30% pada fase V10 (Murni 2007).

III .BAHAN DAN METODE

 3.1 Tempat dan Waktu

Praktikum Dasar–dasar Agronomi mengenai praktik budidaya tanaman dilaksanakan di Kebun Percobaan Leuwikopo dari tanggal  20 September 2012 sampai tanggal 13 Desember 2012.

3.2  Bahan dan Alat

Bahan yang digunakan selama praktikum adalah Benih jagung (Pertiwi), Pupuk Urea (45% N), SP-36 (36% P2O5), KCl (60% K2O), Insektisida butiran (Furadan), Insektisida cairan (Decis Matador), Fungisida (Antracol, Dithane, atau lainnya) sedangkan alat yang digunakan adalah cangkul, kored, tali rafia, tugal, meteran, ember dan label percobaan ajir contoh.

3.3 Cara Pelaksanaan

Ada 4 perlakuan yaitu dua varietas jagung (V) dengan 2 dosis pemupukan nitrogen (N) V1= P12 (Bisi 12, NK 33, P12) dn V2 = bersari bebas ( Lamuru, Srikandi, Bisma) ; N1 = 90 kg N/ha dan N2 = 135 kg N/ha, dengan kombinasi perlakuan :

  1. J1N1 = Jagung P12 dengan dosis 90 kg N/ha
  2. J1N2 = Jagung P12 dengan dosis 135 kg N/ha
  3. J2N1 = Jagung bersari bebas dengan dosis 90 kg N/ha
  4. J2N2 = Jagung bersari bebas dengan dosis 135 kg N/ha

Selain pupuk N sebagai perlakuan di atas , perlu diberikan pupuk dasar kepada setiap perlakuan sebanyak 72 kg P2Odan 60 kg K2O per ha. Ukuran petak 7.5 m x 10 m dan jarak tanam 80 cm x 20 cm dengan satu tanaman per lubang.

3.3.1 Penanaman

  1. Barisan tanaman pertama dimulai setengah jarak tanam antar barisan dari pinggir petakan. Rentangkan dua tali berjarak 80 cm pada sisi barat dan timur, sebagai acuan baris tanaman atau gunakan ajir sebgaia acuan.
    1. Tali yang telah diberi tanda 20 cm yang diikat pada 2 ajir, digunakan sebagai acuan lubang tanam, digerakkan sesuai jarak antar baris ( arah Timur-Barat)
    2. Buat alur pupuk pada jarak 7 cm dari tali, kedalaman alur sekitar 7 cm
    3. Campurkan setengah dosis pupuk Urea, dengan seluruh dosis pupuk SP-36 dan KCl secara merata. Setelah dicampur merata, bagilah menjadi beberapa bagian yang sama sesuai dengan jumlah barisan tanaman
    4. Taburlah pupuk ke dalam alur secara merata dari ujung ke ujung
    5. Buat lubang benih dengan tugal (kedalaman 3-4 cm) dan tanaman 1 butir benih/lubang
    6. Berikan insektisida butiran kira-kira 5-6 butir ke dalam lubang benih (atau dosis 20 kg/ha)
    7. Serelah semua lubang ditanami benih dan diberi insektisida butiran, tutuplah alur pupuk dan lubang benih dengan baik. Usahakan lubang benih ditutup dengan tanah yang lembut dan gembur
    8. Pasang etikel/label di tiap petak sesuai praktikum
    9. Siramkan air secukupnya, hingga lembab, pada barisan lubang benih yang telah ditanam (apabila pada saat tanam tidak ada hujan atau tanah kering).

    3.3.2 Pemeliharaan

    1. Penyulaman benih yang tidak tumbuh dilakukan pada umur 1 MST. Lubang tanam diperiksa, benih yang tidak tumbuh dibuang, diganti dengan benih yang baru
    2. Lakukan penyiangan pada gulma yang tumbuh dekat barisan tanamn dan di antarbarisan tanaman sekaligus untuk menggemburkan tanah, secara manual dengan cangkul atau kored. Usahakan gulma tercabut sampai ke perakarannya
    3. Pemupukan II dilakukan pada tanaman  berumur 3 MST, dengan setengah dosis pupuk Urea. Buat alur pupuk ke-2 di sisi yang berbeda dengan alur pupuk sebelumnya
    4. Pembumbunan merupakan tindakan menimbun akar dan bagian bawah jagung dengan cara menaikkan tanah di samping kanan dan kiri barisna tanaman (membentuk guludan), dilakukan bersamaan dengan pemupukan Urea kedua
    5. Pengendalian hama penyakit dilakukan penyemprotan insektisida dan fungisida apabila diperlukan, sesuai dosis dan volume semprot anjuran yang terterapada label. Pada 3 atau 4 MST, taburkan furadan kira-kira 5 butir melalui pucuk tanaman

    3.3.3 Pengamatan

    Selama  pertumbuhan sampai panen jagung manis, lakukan pengamatan terhadap peubah-peubah di bawah ini :

    Peubah pertumbuhan meliputi :

    1. Daya tumbuh benih pada saat 1 MST hitunglah jumlah benih yang tumbuh dari seluruh jumlah lubang tanam, kemudian presentasekan terhadap seluruh jumlah benih yang ditanam. Amati tipe perkecambahannya
    2. Pada umur 2 MST, ambil 10 tanaman contoh secara acak yang mewakili seluruh petakan (jangan dari barisan pinggir dan bukan tanaman pinggir). Amatilah tanaman contoh tersebut untuk peubah di bawah ini setiap minggu berikutnya sampai 75% populasi tanaman mengeluarkan bunga jantan (tassel), cara pengamatan sebagai berikut :
      1. Tinggi tanaman (cm), diukur dari permukaan tabah sampai ujung daun tertinggi, dengan meluruskan daun
      2. Jumlah daun (helai), hitunglah jumlah helaian daun yang telah membuka sempurna, daun di bagian atas yang masih menggulung tidak dihitung
      3. Lingkar batang (cm), ukurlah lingkar batang pada ketinggian 10 cm dari permukaan tanah, pada saat tanaman keluar malai jantan  (tasseling)
      4. Luas daun per tanaman, Pada saat 6 MST tentukan luas daun dari 1 tanaman contoh kemudian hitunglah Indeks Luas Daun. Luas daun ditentukan dnegan metode gravimetri, yaitu menggambarkan semua daun pada kertas (koran), kemudian digunting dan ditimbang di laboratorium, timbang juga jenis kertas yang sama seluas 20 cm x 20 cm sebagai acuan bobot per satuan luas.
    3. Hitung umur tanaman (hari) pada saat keluar bunga jantan 75% populasi (tasseling)
    4. Hitung umur tanaman (hari) pada saat keluar bunga betina 75% populasi (silking)
    5. Amati dan tentukan jenis hama penyakit yang menyerang tanaman

    Selanjutnya, ketika panen yang dilakukan pad akondisi jagung manis baik untuk dikonsumsi rebus (sekitar 10 MST), amatilah peubah-peubah berikut :

    1. Pada 10 tanaman contoh, lakukanlah pengukuran komponen produksi sebagai berikut:
    2. Bobot tongkol berkelobot
    3. Bobot brangkasan tanaman contoh, cabut tanaman contoh yang telah diambil tongkolnya, bersihkan akar dari tanah yang melekat, lalu potong menjadi bagian akar dan bagian  batang. Selanjutnya, timbang masing-masing bagian tersebut dan hitung rasio batang/akar. Hitung Indeks Panen (bobot tongkol berkelobot dibagi total tanaman)
    4. Bobot tongkol siap dipasarkan (dipotong ujung tongkolnya)
    5. Bobot tongkol tanpa kelobot
    6. Lingkar tonkol (cm) tanpa kelobot
    7. Panjang tongkol (cm) tanpa kelobot
    8. Panjang tongkol berbiji (cm)
      1. Bobot tongkol basah berkelobot per petak. Panenlah seluruh tongkol pada tanaman di petak yang dimiliki, selain tanaman pinggir dan baris pinggir. Kemudian timbanglah sekaligus bobot otngkol dan basah berkelobot ini ditambah dengan bobot tongkol basah 10 tanaman contoh merupakan bobot tongkol basah per petak bersih, kemudian konversikan ke luasan ha.

    IV .HASIL DAN PEMBAHASAN

     1.1  Hasil

    4.1.1  Hasil Pengamatan J1N1

    Tabel 1. Data Hasil Panen Jagung Varietas Pertiwi

    Tanaman

    Jagung

    Ke

    Bobot

    Dengan

    Gelobot (Kg)

    Bobot

    Tanpa

    Gelobot (Kg)

    Bobotsiap di pasarkan (Kg)

    Panjangtongkolberbiji

    Diameter  (cm)

    1.

    0,34

    0,22

    0,18

    16

    7,2

    2.

    0,35

    0,26

    0,24

    14

    7

    3.

    0,28

    0,22

    0,22

    14

    7,2

    4.

    0,39

    0,32

    0,26

    15

    8

    5.

    0,35

    0,28

    0,26

    14

    8

    6.

    0,25

    0,21

    0,18

    15

    6,5

    7.

    0,22

    0,16

    0,14

    11,5

    6,5

    8.

    0,1

    0,8

    0,8

    10

    5

    9.

    0,38

    0,32

    0,28

    15

    8

    10.

    0,36

    0,28

    0,26

    15

    8

    Rata-rata

    0,22

    0,29

    0,21

    13,95

    7,14

    Rumus perhitungan ILD:

    • Massa kertas                       = …gram

    Massa jiplakan daun           = …gram

    Luas daun satu batang        = massa jiplakan daun/massa kertas x (ukuran kertas)

    =

    • ILD             = Luas daun satu batang (cm2)/ (80×20)

     

    Rumus Perhitungan Daya Tumbuh Jagung (J1N1):

    Daya Tumbuh Varietas Lama =

    =

    Daya Tumbuh Varietas Baru  =

    =

    Tabel 2. Jumlah Daun dan Tinggi Tanaman Tanaman Jagung J1N1 pada 10 MST

    Tanamansampel

    Jumlahdaun (helai)

    Tinggitanaman (cm)

    1

    13

    240

    2

    14

    247

    3

    12

    217

    4

    13

    207

    5

    13

    215

    6

    11

    198

    7

    12

    196

    8

    11

    218

    9

    14

    210

    10

    14

    205

    Rata-rata

    13

    215,3

     Bobot tajuk     = 4 Kg

    Bobot akar      = 0,88 Kg

    Panen per petak    = 44,8 Kg

    Rasio batang akar =                Bobot tajuk

    Bobot tongkol bergelobot

    =     4 Kg

    0,22 Kg

    = 18,18

    Indeks Panen        =                            Bobot tongkol bergelobot

    Bobot tongkol bergelobot + bobot tajuk + bobot akar

    =                     0,22 Kg

    0,22 kg + 4 kg + 0,88 kg

                            

    = 0,22 kg  = 0,043

                                                     5,1 kg

    Bobot tongkol sampel             = Bobot tongkol perpetak bergelobot

    Bobot total perpetak

    = 0,22 kg

    44,8 kg

    = 0,0049

    Populasi                       = (10000/luas lahan pemanenan) X bobot tajuk X 0,8

    = (10000 m/6532 m2) X 4 Kg X 0,8

    = 1,53 X 4 Kg X 0,8

    = 5,51 kg/m

    4.1.2  Hasil Pengamatan J2N1

    Tabel 3. Data Pengamatan pada perlakuan J2N1

    MST

    Tinggi (cm)

    Daun (helai)

    1.

    -

    -

    2.

    35,07

    5,2

    3.

    58,68

    6,6

    4.

    85,26

    8

    5.

    -

    -

    6.

    169,65

    9,5

    7.

    -

    -

    8.

    203,4

    13,2

     

     

     

     

     

    4.1.3  Hasil Pengamatan J2N2

    Tabel 4. Data Pengamatan pada Perlakuan J2N2

    MST

    Tinggi (cm)

    Lingkar Batang (cm)

    Daun (helai)

    1.

    -

    -

    -

    2.

    31,5

    2,35

    5

    3.

    52,3

    3,63

    7

    4.

    87,9

    4,9

    7

    5.

    199,5

    7,6

    9

    6.

    167,2

    8,75

    10

    7.

    173,25

    8,8

    15

    8.

    178,7

    9,1

    11

    9.

    186

    9,3

    11

    10.

    241,7

    8,9

    12

    11.

    247,4

    10,3

    12

     

     

     

     

     

  2. 4.2. Pembahasan

     Praktik budidaya tanaman jagung varietas hibrida (P12) yang dilakukan di Kebun Percobaan Leuwikopo dilakukan pada Kamis, 20 September 2012 menggunakan lahan seluas 10 m X 7,5 m untuk setiap perlakuan. Terdapat empat perlakuan untuk tanaman jagung, yaitu J1N1 (Varietas hibrida dengan dosis 90 kg N Ha-1), J1N2 (Varietas hibrida dengan dosis 135 kg N Ha-1), J2N1 (Varietas Bisma  dengan dosis 90 kg N Ha-1), dan J2N2 (Varietas Bisma dengan dosis 135 kg N Ha-1). Dengan menggunakan bantuan tali rafia yang diikatkan pada ajir di setiap ujung tali, dibuatlah jarak antar baris sejauh 80 cm dan jarak baris 20 cm. pada panjang lahan 10 m dibuat dua buah ajir statis yang berfungsi sebagai jarak ukur antar baris, dan pada lebar lahan 7,5 m dibuat satu buah ajir dinamis yang digunakan sebagai patokan jarak baris dan untuk membuat lubang tanam. Maka didapatlah 11 lubang antar baris tanaman dan 32 lubang pada setiap baris tanaman, sehingga jumlah lubang tanam keseluruhan adalah 352 lubang dan setiap lubang diisi dengan satu buah benih jagung. Lubang tanam dibuat dari arah utara ke selatan dengan menggunakan bantuan ajir. Pembuatan lubang dilakukan bersamaan dengan pembuatan alur pupuk, sehingga pada saat praktikan memasukkan benih dan furadan kedalam lubang,  praktikan lain memasukkan pupuk pada alur pupuk yang telah dibuat dan segera menutupnya kembali dengan tanah secara perlahan dan tidak terlalu padat agar memudahkan pertumbuhan benih.

    Setelah 1 minggu setelah tanam (MST) dilakukan penyulaman, penghitungan daya perkecambahan, pembersihan gulma, dan pembenaran saluran air. Namun ternyata tidak ada benih yang tumbuh setelah 1 MST. Hal ini disebabkan karena benih jagung varietas hibrida yang telah ditanam pada minggu pertama sudah terlalu lama disimpan sehingga menyebabkan benih menjadi kedaluwarsa, dan tidak satupun benih yang sudah ditanam menunjukkan awal pertumbuhannya. Maka dilakukan penanaman kembali pada tanggal 24 September 2012 dengan menggunakan varietas jagung yang berbeda, yaitu varietas pertiwi. Oleh sebab itu, praktikan harus menunggu sampai minggu berikutnya untuk mengetahui daya perkecambahan tanaman jagung. Penyulaman dilakukan pada 1 MST varietas pertiwi atau 2 MST varietas hibrida. Ternyata kedua varietas tumbuh bersamaan dan berdekatan. Berdasarkan hipotesis, seharusnya benih jagung dengan varietas hibrida tidak tumbuh karena diduga sudah kadaluwarsa, namun kenyataan dilapang berbeda. Benih varietas hibrida yang tumbuh sebanyak 315 tanaman (89,49%), dan benih varietas pertiwi yang tumbuh sebanyak 265 tanaman (75,28%). Karena varietas hibrida lebih banyak yang tumbuh dan lebih beraturan daripada varietas pertiwi, maka yang dipertahankan untuk dibudidayakan adalah varietas hibrida, sehingga varietas pertiwi dicabut agar tidak mengganggu pertumbuhan benih varietas hibrida.

    Saat umur tanaman mencapai 2 MST dipilih 10 tanaman contoh. Tanaman yang diambil sebagai contoh tidak dari barisan pinggir karena kemungkinan tanaman pinggir sudah banyak mengalami pengaruh dari luar petakan. Tanaman contoh I I akan dijadikan sebagai indikator pertumbuhan tanaman dalam petakan, untuk itu dilakukan pengamatan dan pemeliharaan sejak minggu pertama tanam sampai saat pemanenan.

    Data hasil pertumbuhan dari perlakuan J1N1 hanya diperoleh data pada 10 MST, sedangkan data perlakuan J2N1 hanya sampai pada 8 MST sehingga data dari kedua perlakuan tersebut tidak bisa dibandingkan. Sedangkan data J1N1 pada 10 MST dapat dibandingkan dengan data dari perlakuan J2N2 pada 10 MST pula. Berdasarkan data, tinggi tanaman jagung perlakuan J1N1 rata-rata sebesar 215,3 cm dan rata-rata jumlah helai daun sebanyak 12. Tinggi tanaman jagung perlakuan J2N2 sebesar 241,7 cm dengan rata-rata jumlah helai daun sebanyak 12 pula. Perbedaan rata-rata jagung antar dua perlakuan tersebut disebabkan jumlah dosis pupuk nitrogen yang diberikan berbeda dimana pada perlakuan J2N2 dosis pupuk yang diberikan lebih banyak. Senyawa nitrogen akan merangsang pertumbuhan vegetatif tanaman yaitu menambah tinggi tanaman (Buckman dan Brady 1982 dalam Wuryaningsih 1994) sehingga semakin banyak pupuk nitrogen yang diberikan maka akan merangsang pertumbuhan tinggi tanaman menjadi lebih tinggi.  Indeks luas daun diperoleh setelah seluruh daun dari contoh tanaman diambil dan dicetak di atas kertas, cara ini disebut dengan metode gravimetri. Kertas yang telah tercetak bentuk daun, lalu digunting sesuai dengan bentuknya. Kertas ini kemudian ditimbang dan dilakukan perbandingan dengan bobot kertas utuh. Dari hasil ini dapat diperoleh indeks luas daun. Indeks luas daun memiliki korelasi dengan besarnya proses fotosintesis yang dilakukan oleh tanaman. Semakin tinggi indeks luas daun maka semakin aktif sebuah tanaman dalam melakukan proses fotosintesis.

  3.             Panen dilaksanakan pada minggu ke-13 praktikum. Panen tidak dilakukan pada tanaman tepi, hanya pada tanaman dalam petak bersih. Karena ada kemungkinan tanaman tepi telah banyak mengalami pengaruh dari luar seperti irigasi, atau pengaruh dari petakan yang berdekatan. Pemanenan pertama dilakukan pada sepuluh tanaman contoh, kemudian diikuti tanaman lainnya dalam satu petakan. Tanaman contoh dicabut sampai bagian akar, kemudian akar dibersihkan dari tanah-tanah yang menempel dan dipotong pada bagian leher akar atau perbatasan antara akar dengan tajuk karena akan dihitung bobot akarn dan tajukya. Maka didapatlah bobot akar seberat 0,88 kg, bobot tajuk 4 kg, dan bobot hasil panen perpetak 44,8 kg. Kemudian ditimbang bobot jagung bergelobot dan didapat bobot rata-rata sebesar 0,22 kg, bobot jagung tanpa gelobot dengan rata-rata 0,29 kg, bobot siap dipasarkan dengan rata-rata 0,21 kg, panjang tongkol berbiji dengan rata-rata 13,95 cm, dan diameter tongkol dengan rata-rata 7,14 cm.  Bobot jagung bergelobot adalah bobot jagung lengkap dengan kulit pembungkus dan rambutnya, sedangkan bobot jagung tanpa gelobot adalah bobot jagung tanpa kulit pembungkus dan rambutnya, dan bobot tongkol siap dipasarkan adalah tongkol jagung yang sudah dipotong gagang pada bagian kepala dan ujung jagung, hal ini dimaksudkan agar nilai ekonomisnya semakin tinggi dan kualitasnya semakin baik. Selain itu diukur pula panjang tongkol berbiji, diameter tongkol, dan populasi yang didapatkan perpetak yang dipanen adalah 5,51 kg/m tanpa menghitung jumlah tongkol jagung bagian tanaman pinggir.
  4.             Berdasarkan data hasil panen kelompok satu dengan perlakuan J1N1 didapatkan nilai rasio batang akar sebesar 18,18 , dan nilai indeks panen sebesar 0,043. Beberapa tanaman contoh memiliki tongkol yang kurang baik sepertipertumbuhannya yang kerdil, biji tidak tumbuh secara sempurna sehingga mengakibatkan ada tongkol yang kosong dari biji, hal ini mungkin disebabkan karena kurangnya unsur hara pada tanaman tersebut, kurangnya nitrogen, atau factor lainnya seperti pencahayaan, populasi tanaman yang dipanen setiap petak hampir optimal sehingga hasil lebih rendah dari yang seharusnya dapat dicapai, penyiapan lahan petakan dengan drainase yang kurang baik.Pengendalian gulma yang jarang dilakukan, terutama pada saat tanaman mulai tinggi, pembersihan gulma manjadi sulit untuk diterapkan, pengendalian hama penyakit belum efektif dan sering terlambatdan lain lain. Namun tidak semua tongkol mengalami hal demikian, yang mengalami kerusakan pertumbuhan hanya sekitar 2% dari tanaman contoh. Dalam hal ini perlakuan J1N2, J2N1, dan J2N2 tidak dibahas karena praktikan tidak mendapatkan data hasil panen dari kelompok lain. Selanjutnya jagung hasil panen dibagikan kepada seluruh anggota kelompok dan beberapa teman lainnya.

    Hambatan lain yang dirasakan praktikan seperti kurangnya pengetahuan praktikan merupakan salah satu faktor penentu dalam keberhasilan penanaman jagung. Mulai dari kesalahan acak seperti ketidakseragaman jarak tanam, hingga jumlah pupuk yang tidak tepat sama untuk setiap baris tanam. Sedangkan hambatan yang dirasakan dalam pembuatan laporan adalah adanya data yang tidak lengkap karena pengamatan beberapa minggu sempat terlewatkan, hal ini dikarenakan saat itu bertepatan dengan ujian tengah semester (UTS) ganjil, sehingga praktikan tidak memfokuskan pada pengamatan. Karena kurangnya data tersebut, praktikan merasa kesulitan saat pembuatan laporan, sehingga banyak kejanggalan dalam laporan ini. Namun hal tersebut tidak berarti menyurutkan semangat praktikan untuk menyelesaikan laporan akhir praktikum dasar-dasar agronomi.

    Selama praktikum berlangsung, banyak penunjang yang menjadikan praktikum dapat berjalan dengan baik, seperti peralatan pertanian yang telah disediakan oleh departemen Agronomi dan Hortikultura, dosen yang berkompeten dibidangnya, dan asprak yang cakap sehingga praktikan dapat menjalankan setiap praktikum dengan baik.

  5.  

    V. KESIMPULAN DAN SARAN

     5.1 Kesimpulan

                Praktik budidaya tanaman jagung Kebun Percobaan Leuwikopo dilakukan menggunakan lahan seluas 10 m X 7,5 m untuk setiap perlakuan. Terdapat empat perlakuan untuk tanaman jagung, yaitu J1N1 (Varietas hibrida dengan dosis 90 kg N Ha-1), J1N2 (Varietas hibrida dengan dosis 135 kg N Ha-1), J2N1 (Varietas Bisma  dengan dosis 90 kg N Ha-1), dan J2N2 (Varietas Bisma dengan dosis 135 kg N Ha-1). Perlakuan yang dibahas pada laporan ini hanya perbandingan tinggi tanaman J1N1 dan J2N2 karena data yang diperoleh kurang lengkap.

    Perbedaan tinggi kedua tanaman disebabkan perbedaan dosis pupuk nitrogen yang diberikan dan berpengaruh terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman jagung.

    Selain tinggi tanaman, dihitung pula daya tumbuh tanaman, ILD (Indeks Luas Daun), dan jumlah helai daun (hanya pada perlakuan J1N1) serta diperoleh pula data hasil panen tanaman jagung perlakuan J1N1.

    5.2 Saran

                Sebaiknya pengumpulan data pertumbuhan tanaman jagung dikumpulkan setiap minggu setelah dilakukan praktikum agar data yang diperoleh tiap kelompok lebih lengkap dan valid. Selain itu, konten dalam jurnal serta laporan agar diberitahukan secara lebih mendetail agar saat pembuatan laporan praktikan tidak mengalami kebingungan.

    DAFTAR PUSTAKA

     Atmadja, GS. 2006. Pengembangan Produk Pangan Berbahan Dasar Jagung Quality Protein Maize (Zea Mays L.) Dengan Menggunakan Teknologi Ekstrusi [skripsi]. Bogor(ID): FakultasPertanian, InstitutPertanian Bogor.

    Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Pertanian. 2011. Pictorial Guide Pengenalan gejala penyakit di lapangan (kegiatan on-farm ). Bekasi: Badan Karantina Pertanian.

    Fitriani, F. 2009.  Hama Dan Penyakit Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt.) Di Desa Benteng, Cibanteng Dan Nagrog, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat [skripsi]. Bogor (ID): Fakultas Pertanian, Institut Pertanian Bogor.

    Johnson, L.A., 1991. Corn : The major cereal of the American. In : Kulp and Ponte, Jr. Handbook of Cereal Science and technology. Marcel Dekker, Inc. New York, Bassel.Dowswell, C.R., R.L.Paliwal, and R.P.Cantrell, 1996. Maize in the thir world. Westview Press.

    Murni, AM. 2007. Efisiensi Penggunaan Pupuk Nitrogen, Posfor Dan Kalium Pada Tanaman Jagung (Zea mays) (Nitrogen, phosphorus and potassium fertilizer use efficiencies in maize). Di dalam: Muryanto et al., editor. Inovasi Teknologi Industri. Prosiding Seminar inovasi teknologi pertanian untuk pengembangan agribisnis industrial pedesaan di wilayah marjinal; 2007 Nov 08; Ungaran. Ungaran (ID): BPTP Jawa Tengah. hlm 147-148.

    Putra, SN. 2008. Optimalisasi Formula Dan Proses Pembuatan Mi Jagung Dengan Metode Kalendering [skripsi]. Bogor(ID): FakultasPertanian, InstitutPertanian Bogor.

    Wuryaningsih, S. 1994. Pengaruh Jenis dan Dosis  Pupuk  Kandang  Terhadap Pertumbuhan  dan  Produksi  Bunga Mawar  Kultivar  Cherry  Brandy. J. Hortikultura. 4(2) : 41-47.

    BAGIAN II .PEMBIBITAN TANAMAN KOPI

     I .PENDAHULUAN

     1.1  Latar Belakang

    Wadah tanam memiliki dua fungsi umum yaitu untuk penanaman sampai tanaman dewasa dan berproduksi dan untuk pembesaran bibit sebelum dipindahkan ke kebun, rumah kaca atau bedengan. Bila ditinjau dari cara penanamannya wadah tanaman dapat dibedakan menjadi wadah untuk tanaman berkelompok dan wadah untuk penanaman individu. Wadah tanaman dapat dibuat dari berbagai macam bahan seperti logam, kayu, gerabah, porselen maupun plastik. Wadah tanam dari bahan plastik dapat berupa pot atau cukup berupa kantung.

    Di dunia perdagangan dikenal beberapa golongan kopi, tetapi yang paling sering dibudidayakan hanya kopi Arabika, Robusta, dan Liberika. Kopi Robusta bukan nama spesies karena kopi ini merupakan keturunan dari beberapa spesies kopi terutama Coffea canephora. Kopi Robusta berasal dari hutan-hutan khatulistiwa di Afrika, yang membentang dari Uganda hingga Sudan Selatan, bahkan sampai Abyssinia Barat sepanjang curah hujan mencukupi(Retnandari dan Tjokrowinoto 1991).

    Tanaman kopi merupakan tanaman tahunan yang banyak dikembangkan oleh masyarakat di Indonesia, baik perkebunan besar maupun perkebunan rakyat. Kopi robusta mulai ditanam di Indonesia pada tahun 1990, dan sampai saat ini masih tetap mendominasi. Kopi ini tahan terhadap penyakit karat daun, dan tidak memerlukan persyaratan yang khusus untuk pertumbuhannya, produksi lebih tinggi bila dibandingkan dengan kopi arabika ( Syawal 2006 ).

    1.2  .Tujuan

    Tujuan dari praktikum ini adalah untuk memberikan pengalaman kepada mahasiswa tentang pembibitan tanaman kopi.

     II .METODE PELAKSANAAN

     2.1.  Tempat dan Waktu

    Praktikum ini dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 11 Oktober 2012 di kebun Cikabayan.

    2.2.  Bahan dan Alat

    Bahan yang digunakan yaitu bibit kopi, polybag berukuran 15 cm x 20 cm, Tanah latosol Darmaga dan alat yang digunakan yaitu cangkul, ember dan spidol.

    2.3   Cara Pelaksanaan

    Siapkan Polybag berukuran 15cm x 20 cm kemudian dilubangi pada sisinya sekitar 5 cm dari dasar polybag (periksa mungkin polybag yang diterima sudah berlubang sehingga tidak perlu dilubangi lagi) setelah itu sisi polybag dibalik sehingga bagian dalam menjadi bagian luar, hal ini dimaksudkan agar polybag dapat berdiri tegak setelah diisi media.

    Kemudian polybag diisi dengan media tanah latosol Darmaga bagian top soil yang telah dibersikan dari akar-akar dan kayu-kayu, pengisian media sampai sekitar 3 cm di bawah ujung atasnya.Sisa sisi polybag dilipat 2 kali sehingga permukaan media rata dengan tepi polybag.

    Selanjutnya Penanaman bibit karet yang harus dilakukan dengan hati‐hati sekali, dengan maksud supaya akar dan batang kepelan tidak rusak. Untuk keperluan tersebut tempat‐tempat yang akan ditanami harus dibuat lubang terlebih dahulu dengan suatu alat tertentu, misalnya bilah bambu atau tusuk. Kemudian barulah bagian akar dan batang ditempelkan pada salah satu sisi lubang dengan tangan kiri, dan tangan kanan melakukan pemadatan tanah dengan hati‐hati sekali (Hamid 2012).

    Setelah bibit ditanam kemudian setiap polybag diberi penomoran dan selanjutnya polybag diletakkan di bawah naunagan secara teratur dan dilakukan penyiraman sesuai keperluan.

     III .HASIL DAN PEMBAHASAN

     3.1  Hasil

    Tabel 5. Data Ketinggian

    masing-masing bibit pada setiap polybag

    Bibit ke-

    Ketinggian (cm)

    1.

    7,3

    2.

    9,5

    3.

    9

    4.

    6,7

    5.

    8,5

    6.

    6

    7.

    5,6

    8.

    6,8

    9.

    8,3

    10.

    7


  6.  3.2    PembahasanTanaman kopi merupakan salah satu tanaman perkebunan yang penting di Indonesia. Pembibitan tanaman kopi dapat dilakukan dengan dua cara yaitu secara vegetatif dan secara generatif. Secara vegetatif dapat dilakukan dengan sambungan (grafting/entring), stek (cutting),bibit cangkokan dan okulasi dan secara generatif dapat dilakukan dengan biji. Kedua cara pengadaan bahan tanam tersebut pada dasarnya sama, yaitu harus melalui dua tahap pembibitan. Pertama melalui persemaian (pre nursery), kedua melalui pembibitan (main nursery).

    Pada tahap persemaian, benih yang sudah disiapkan dan diseleksi yang baik dan sehat ditanam (dideder) di bedengan yang telah disiapkan sebelumnya. Ukuran bedengan lebar 1.2 m dan panjang menurut keperluan, tapi lebih baik tidak lebih dari 10 m. Di antara bedengan dibuat jalan selebar 40 cm. Arah bedengan utara-selatan. Bedengan dicangkul sedalam + 30 cm, kemudian dihaluskan dan diratakan serta sisa-sisa akar dan batu-batu dibuang. Untuk suci hama ditaburkan insektisida. Bedengan kemudian dilapisi pasir halus setebal + 5 cm. Tepi bedengan diberi penahan dengan sebilah bambu atau papan. Benih ditanam dengan posisi tertelungkup atau bagian yang rata di bawah dibenamkan sedalam + 0.5 cm. Jarak tanam benih 5 cm x 3 cm. Setelah benih ditanam, bedengan persemaian ditutup dengan daun alang-alang yang dipotong kecil-kecil dan disiram setiap hari. Pemindahan kecambah ke pembibitan dilakukan setelah kecambah berumur 9 – 12 minggu sejak tanam

    Pada tahap pembibitan, pekerjaan yang dilakukan yaitu persiapan tempat pembibitan, pemindahan dan penanaman bibit serta pemeliharaan bibit. Tempat pembibitan sebaiknya berdekatan dengan lokasi penanaman, dekat sumber air, mudah pengawasan dan mudah pengangkutan. Tempat pembibitan diberi naungan, baik naungan alami seperti tanaman Laucaena glauca klon L2 ataupun naungan buatan seperti atap dari daun alang-alang, anyaman bambu ataupun anyaman daun kelapa. Pembibitan sebaiknya dilakukan dengan menggunakan polybag untuk memudahkan pemeliharaan serta memudahkan pengangkutan dan penanamannya di lapang. Kecambah yang telah berumur 9 – 12 minggu sejak tanam (stadium kepelan) dipindahkan ke polybag. Sebelum ditanam dalam polybag, bibit diseleksi terlebih dahulu dengan kriteria berdaun kepel baik (hijau), tumbuh subur, batang dan akar tunggang tidak bengkok dan bebas hama dan penyakit.

    Pemeliharaan bibit di pembibitan meliputi penyiraman, pengendalian gulma, pemupukan pengendalian hama dan penyakit serta pengaturan naungan dan seleksi bibit. Penyiraman dilakukan satu atau dua hari sekali dengan volume air sampai kapasitas lapang (media tumbuh tetap lembab). Pengendalian gulma dilakukan secara manual baik di luar maupun di dalam polybag. Sebelum dilakukan pemupukan, media tumbuh dalam polybag digemburkan terlebih dahulu. Hama yang banyak menyerang bibit kopi biasanya terdiri atas ulat, tungau/ kutu yang dapat dikendalikan dengan insektisida dengan konsentrasi 0,2 – 0,3 persen. Penyakit yang biasa menyerang di pembibitan, yaitu penyakit karat daun (Hemileia vastarix) atau bercak daun, pengendaliannya digunakan fungisida dengan konsentrasi 0,2 persen. Pengaturan/pengurangan naungan di pembibitan perlu dilakukan secara berangsur-angsur agar bibit dapat beradaptasi terhadap penyinaran matahari. Demikian pula dengan seleksi bibit harus dilakukan secara bertahap dengan memisahkan bibit yang pertumbuhannya kerdil serta terserang hama dan penyakit dari bibit yang baik ( Firmansyah 2010).

     IV. KESIMPULAN DAN SARAN

     4.1  . Kesimpulan

    Dari Hasil Praktikum Budidaya tanaman dalam wadah pada tanaman Kopi Robusta dapat disimpulkan bahwa pembibitan tanaman dalam wadah seperti polybag memiliki kelebihan yaitu dapat memudahkan pemeliharaan serta memudahkan pengangkutan dan penanamannya di lapang. Adapun faktor- faktor yang dapat menentukkan keberhasilan dalam pemeliharaan pembibitan tanaman kopi yaitu penyiraman, pengendalian gulma, pemupukan pengendalian hama dan penyakit serta pengaturan naungan dan seleksi bibit.

    4.2  . Saran

    Saran untuk Praktikum Dasar-dasar Agronnomi kedepannya yaitu diharapkan Saat praktikum suasana bisa lebih kondusif mengingat banyaknya mahasiswa yang mengambil pelajaran ini sehingga saat dosen menjelaskan terasa kurang efektif jika tidak menggunakan alat pengeras suara. Sealin itu alangkah lebih baiknya jika laporan tidak ditumpuk semua di akhir praktikum seperti ini.

    DAFTAR PUSTAKA

     Firmansyah, Hilma. 2010. Pelaksanaan Pembibitan dan Penanamandalam Budidaya Tanaman Kopi[Terhubung Berkala]http://binaukm.com/2010/06/pelaksanaan-pembibitan-dan-penanaman-dalam-budidaya-tanaman-kopi/( 31 Desember 2012).

    Hamid, Raka. 2012. Pembibitan dan Penyemaian Tanaman Kopi. [Terhubung Berkala]. http://www.rumahkopi.com/2012/02/pembibitan-dan-penyemaian-tanaman-kopi.html ( 31 Desember 2012).

    Retnandari dan Tjokrowinoto. 1991. Tinjauan Pustaka. [Terhubung Berkala] http://repository.ipb.ac.id/bitstream/handle/123456789/55728/BAB%20II%20Tinjauan%20Pustaka.pdf?sequence=4 ( 31 Desember 2012).

    Syawal, Yarnelis. 2006. Pertumbuhan Bibit Kopi Robusta ( Coffea canephora pierre ) dan Gulam yang Bermanfaat Pada Tanah Yang Dipupuk Urea. [Terhubung Berkala] http://isjd.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/5306293299.pdf ( 31 Desember 2012).

    BAGIAN III.   IDENTIFIKASI TANAMAN PERKEBUNAN

     I .PENDAHULUAN

  7. 1.1 LatarBelakang

    Indonesia adalah negara agraris. Luas lahan pertanian Indonesia mencapai 196 juta ha yang terbagimenjadi beberapa sektor antara lain pertanian sawah dan perkebunan. Terdapat aneka jenis tanaman perkebunan yang dikembangkan di Indonesia mulai dari tanaman yang dimanfaatkan daunnya, buahnya, getah dan kayunya. Contoh tanaman yang dimanfaatkan daunnya adalah teh, yang dimanfaatkan buahnya adalah kopi dan kakao, yang dimanfaatkan getahnya adalah karet dan lain sebagainya.

    Tanaman perkebunan yang sangat terkenal di Indonesia adalah kelapa sawit. Sektor kelapa sawit ini ada di Kalimantan dan Sumatra. Dari data yang diperoleh, Indonesia merupakan penghasil kelapa sawit terbesar ke-2 di dunia. Hanya saja, Indonesia hanya menghasilkan bahan baku saja tidak sampai hasil produksi yang lebih lanjut.

    Agar pertanian Indonesia maju maka kita juga harus mengembangkan sektor perkebunan. Langkah awal yang dapat dilakukan adalah dengan mempelajari tanaman-tanaman perkebunan tersebut termasuk karakteristik, habitat, dan teknik budidayanya.

     1.2 Tujuan

    Adapun tujuan dari kegiatan identifikasi tanaman perkebunan antara lain untuk mengetahui jenis dan karakteristik tanaman perkebunan serta mengetahui teknik budidaya dan manfaat dari setiap jenis tanaman perkebunan.

    II.  METODE PELAKSANAAN

     2.1.  Tempat dan Waktu

    Praktikum Pengenalan tanaman Perkebunan ini dilakukan pada hari Kamis tanggal 6 November 2011 pada pukul 07.00 WIB di Cikabayan.

    2.2.  Cara Pelaksanaan

    Kebun Cikabayan mempunyai beberapa tanaman perkebunan, yaitu kelapa sawit, teh, karet, kakao dan kelapa. setiap tanaman perkebunan diamati dan dicatat. Praktikan dijelaskan tentang pengertian dan manfaat tanaman perkebunan oleh asisten praktikum.

    III. HASIL DAN PEMBAHASAN

    3.2 Pembahasan

    Kelapa sawit habitat aslinya adalah semak belukar dan dapat tumbuh di daerah tropis dengan baik. Daun kelapa sawit merupakan daun majemuk, batang kelapa sawit diselimuti bekas pelepas huingga umur 12 tahun dan setelah umur 12 tahun pelepah yang mengering akan terlepas. Buah dari kelapa sawit bergerombol dalam tandan yang muncul tiap pelepah. Jarak tanam yang baik untuk kelapa sawit adalah ± 9 meter. Umur ekonomis kelapa sawit adalah 25 tahun. Akar kelapa sawit adalah serabut dan mengarah ke bawah dan ke samping.

    Kelapa memiliki buah bsar dengan diameter 10 – 20 cm bahkan lebih, berwarna hijau, coklat atau kuning. Pohon dengan batang tunggal dan kadang-kadang bercabang, memiliki ruas-ruas tyang tampak dengan jelas. Kelapa memiliki akar serabut tebal berkayu. Daunnya merupakan daun tunggal dengan pertulangan menyirip dan bunga tersusun majemuk pada rangkaian yang di lindungi bractea (bunga jantan dan bunga betina berada dalam 1 rumah). Kelapa secara alami tumbuh di pantai dan pohonnya mencapai ketinggian 30 meter. Adapun 3 jenis kelapa yang diketahui yaitu kelapa dalam, kelapa genjah dan kelapa hibrida. Jenis kelapa dalam memilikibatang yang kurus dan tinggi yang mencapai 30 meter atau lebih. Produksi kopranya lebih tinggi, yaitu 1 ton kopra/tahun, daging buah tebal dan keras, lebih tahan terhadap hama dan penyakit. Kelapa genjah merupakan salah satu komponen pembentuk kelapa hibrida dari hail persilangannya dengan varietas kelapa dalam. Kelapa genjah memiliki kelemahan, yaitu peka terhadap keadaan lingkungan yang kurang baik, berbuah lebat namun mudah dipengaruhi fluktuasi iklim, ukuran buah relatif kecil, kadar kopra rendah. Berbeda dengan kelpa hibrida yang memiliki keunggulan, yaitu lebih cepat berbuah sekitar 3-4 tahun, produksi kopra tinggi sekitar 6-7 ton/Ha/tahun pada umur 10 tahun, produktivitas sekitar 140 butir/pohon/tahun, daing tebal dan keras dengan kandungan minyak yang tinggi.

    Karet merupakan salah sau tanaman perkebunan selain kelapa. Untuk memperoleh karet dengan cara melukai kulit batangnya sehingga keluar cairan kenytal yang disebut lateks dan ditampung di wadah. Penyadapan atau melukai kulit batang dilakuakn pada pukul 05.00 pagi karena pada saat itu terjadi transpirasi dalam tanah untuk menghasilkan lateks ayng banayak. Penyadapan jangan sampai melukai kambium. Getah lateks terdiri dari 2 jenis, yaitu RSS  (Ribbed Smoked Sheet) dan lateks pekat.

    Kakao memiliki masa panen setelah 3 tahun. Di alam, ketinggiannya dapat mencapai 10 meter. Namun dalam budidaya tingginya dibuat tidak lebih 5 meter dengan tajuk menyamping yang meluas. Kaako secara umum merupakan tumbuhan menyerbuk silang, yang memiliki inkompatibilitas sendiri. Warna buah berubah-rubah mulai dari hijau hingga ungu sewaktu muda dan warna kuning menunjukkan masaknya kakao.

    Teh berasal dari Cina, cara panennya dipetik pucuknya. Dalam melakukan pemetikan, perlu diperhatikan peko dan kepel. Peko merupakan pucuk yang sedang aktif tumbuh dan bergerigi. Sedangkan kepel tidak bergerigi. Pucuk teh yang dipetik dapat diketahui dengan rumus p+2/k+1, yang artinya peko dan 2  adaun dibawahnya serta kepel dengan 1 daun diatasnya lalu diantara daun tersbut dipetik. Pada teh juga dikenal dengan pucuk burung, yaitu pucuk yang mengalami masa dormansi. Pucuk burung dapat dipetik melalui rumus b+3/k+1.

    Kopi pertama kali ditemukan di Afrika. Buah dapat dipanen setelah umur 2 tahun. Buah yang dipanen adalah buah yang mengalami perubahan swarna dari hijau menjadi warna merah. Kopi dipanen buahnya dengan cara dipetik. Tanamaan ini tumbuh tegak, bercabang, dan tingginya dapat mencapai 12 meter. Daunnya bulat telur dengan ujung agak runcing. Secara alami, kopi memiliki akar tunggang sehingga tidak mudah rebah. Tetapi akar tunggang tersebut hanya dimiliki oleh tanaman kopi yang bersal dari bibit semaian. Tanaman kopi merupakan tanaman naungan bagi teh sehingga teh tidak terkena matahari secara langsung. Kopi yang  biasa dinikmati adalah kopi Arabika dan Robusta.

     IV. KESIMPULAN DAN SARAN

  8. Sektor perkebunan termasuk sektor yang menunjang pertanian Indonesia. Beberapa jenis tanaman perkebunan yang telah banyak dikembangkan di Indonesia antara lain: teh, kopi, kakao, karet, kelapa, dankelapasawit. Masing-masing mempunyai karakteristik dan teknik budidaya yang berbeda seperti yang telah disebutkan dalam pembahasan.

     DAFTAR PUSTAKA

     Anonim.  Cokelat.  http://www.wikipedia.co.id.  [31 Januari 2009].

    Anonim.  Karet.  http://www.wikipedia.co.id.  [31 Januari 2009].

    Anonim.  Kelapa.  http://www.wikipedia.co.id.  [13 Desember 2010].

    Anonim.  Pepaya.  http://www.wikipedia.co.id.  [31 Januari 2009].

    IV . BUDIDAYA TANAMAN SAYUR-SAYURAN

     DALAM NETHOUSE

    PENDAHULUAN

     1.1  . Latarbelakang

    Tanaman sayur selain mengandung berbagai zat gizi yang berguna untuk kesehatan tubuh, juga mengandung zat-zat non gizi yang juga cukup penting, yang disebut dengan serat. Serat dapat membantu mencegah sembelit, mencegah kanker, mencegah sakit pada usus besar, membantu menurunkan kadar kolesterol, membantu mengontrol kadar gula dalam darah, mencegah wasir, membantu menurunkan berat badan dan masih banyak lagi;

    Mengkonsumsi serat makanan juga dapat menurunkan terjadinya penyakit degeneratif. Usia kaum vegetarian juga relatif lebih panjang. Budidaya sayuran selalu dilakukan sepanjang musim baik musim kemarau maupun musim hujan karena konsumen sayuran lebih menyukai produk segar dibandingkan dengan produk olahan.

    Komoditas hortikultura dibagi menjadi Pamologi atau Frutikultura diantaranya melon, semangka, manggis, manga, apel, durian, salak, dan lain-lain, Florikultura diantaranya melati, mawar, krisan, anyelir, begonia, bugenvil, dan lain-lain, Olerikultura diantaranya tomat, salad, tomat, bayam, wortel,kentang, Biofarmaka diantaraya purwoceng, rosella, kunyit, dan Lansekap diantarana taman Bali, taman Jawa, dan lain-lain.

    2.1. Tujuan

    Praktikum kali inibertujuanuntukmengenallebihlanjutmacam – macamtanamanholtikulturadapun tujuan dilaksanakannya praktikum ini adalah untuk meperkenalkan kepada mahasiswa macam-macam tanaman hortikultur, memberikan penjelasan tentang tanaman sayur dan buah yang memiliki nilai ekonomi tinggidan menjelaskan cara budidaya yang baik dan benar.

     III. METODE PELAKSANAAN

     2.1.Tempat dan Waktu

    Praktikumbudidaya tanaman sayur-sayurandalam nethousedilaksanakan di CikarawangpadahariKamistanggal 22 November 2012pukul 07.00 WIB.

    2.2.Cara Pelaksanaan

    Pengenalan tanaman sayur dan buah di jelaskan oleh petugas di kebun percobaan. Praktikan diperkenalkan pada tanaman sayur dan buah yang dibudidayakan di ICDF, seperti sawi, bayam merah, bayam hijau, kangkung, pakcoy, jambu kristal, srikaya, buah naga, jujubae, tomat ceri, asparagus, okrah, kacang panjang merah, dan pare putih. Ada pula budidaya tanaman bunga anggrek yang terletak di rumah kaca dengan berbagai tipe spesies bunga. Penjelasan yang diberikan hanya secara umum saja, karena terlalu banyak sayur dan buah yang dibudidayakan di kebun percobaan Cikarawang. Jika praktikan merasa ada pertanyaan maka dapat langsung ditanyakan di tempat kepada petugas yang menjelaskan.

     III. HASIL DAN PEMBAHASAN

     3.1. Hasil

    Macam-macam sayur dan buah yang dibudidayakan :

    ü  Sawi

ü  Bayammerah

ü  Bayamhijau

ü  Kangkung

ü  Pakcoy

ü  Asparagus

ü  Okrahü  Tomatceri

ü  Kacangpanjangmerah

ü  Pare putih

ü  Jambu Kristal

ü  Buahnaga

ü  Jujubae

ü  Srikaya

3.2. Pembahasan

Praktikum yang berlangsung pada tanggal 22 November 2012 di Kebun Percobaan Cikarawang adalah pengenalan tanaman sayuran dan buah dalam nethouse. Banyak sayuran dan buah yang dibudidayakan disana, namun hanya beberapa saja yang dibahas saat praktikum. Untuk tanaman sayur umumnya bibit ditumbuhkan pada media tanam yang berisikan beberapa lubang untuk pertumbuhan bibit. Bibit yang sudah tumbuh selanjutnya dipindahkan pada media tanam yang lebih besar yaitu pada jaring besi yang sudah dirangkai khusus untuk pertumbuhan tanaman sayur tersebut. Ada beberapa sayur yang ditanam secara organic, dan ada pula yang ditanam secara non-organik. ICDF berperan dalam penyediaan pembibitan, pertumbumbuhan, packing, dan pemasaran. Namun ada pula yang diserahkan kepada petani sekitar. Hal ini dimaksudkan untuk membantu para petani di sekitar kampus.

Tomat ceri adalah salah satu sayuran yang dibudidayakn di ICDF. Tomat ceri memiliki karakteristik bentuk kecil seperti buah ceri dan warna yang lebih cerah dari tomat kebanyakan. Warna buah tomat ceri adalah kuning cerah atau merah. Cara membudidayakan tomat ceri ini dengan teknik sambung. Karena tomat memiliki perakaran yang kurang kuat dan mudah terserang penyakit, maka dilakukan penyambungan antara tomat dengan cabai. Batang bagian bawah sampai akar adalah tanaman cabai, dan batang atasnya adalah tanaman tomat. Seperti pada sayuran lain, pembibitan tanaman tomat dilakukan pada tray dan jika sudah besar dipindahkan pada pot yang lebih besar pula.

Apabila ada pertumbuhan cabang yang berlebih, maka cabang yang tumbuh tersebut harus dipotong, karena jika tidak dipotong akanm menghambat pertumbuhan tomat dan akibatnya tomat akan kerdil/kecil karena harus berbagi nutrisi dengan cabang lain.

Pengamatan selanjutnya beralih pada tanaman buah. Terdapat beberapa tanaman yang dibudidayakan dan memiliki nilai ekonomi tinggi seperti Jambu Kristal. Jambu Kristal adalah komoditas yang menjadi ciri khas tanaman di ICDF. Karena kunggulannya jambu Kristal memiliki harga yang lebih tinggi dari jambu biji biasa. Jambu Kristal memiliki karakteristik ukuran besar, kulit tebal, biji sedikit bahkan sampai tidak berbiji. Perawatan tanaman jambu Kristal cukup mudah, hanya perlu disiram setiap hari. Namun karena daerah Bogor memiliki curah hujan yang tinggi, penyiraman dilakukan hanya bila dibutuhkan saja. Penyiraman dilakukan dengan menggunaka selang air yang telah disediakan pada setiap baris tanaman.

Jambu Kristal memiliki ukuran tanaman yang cukup pendek, sehingga memudahkan saat pemanenan. Tingginya tidak melebihi tinggi orang dewasa. Pada saat tanaman sudah memiliki banyak cabang, beberapa cabang direbahkan ke tanah dengan menggunakan bantuan patok yang ditancapkan di tanah. Perebahan ini dilakukan agar proses fotosintesis pada setiap daun merata. Sehingga tidak ada daun yang tidak melakukan fotosintesis.

Hal lain yang perlu diperhatikan adalah tingkat pertumbuhan buah, apabila dalam satu tangkai terdapat dua buah jambu Kristal yang tumbuh, maka salah satunya harus dibuang agar jambu Kristal dapat tumbuh maksimal dengan ukuran yang diharapkan. Kegiatan penanaman, pemeliharaan, pemanenan, packing dan pemasaran dilakukan dengan sangat hati-hati dan dipilih buah jambu Kristal dengan kualitas terbaik untuk dipasarkan.

Tanaman buah lainnya adalah Srikaya dan Buah Naga. Terdapat dua jenis verietas buah srikaya, yaitu varietas jumbo yang memiliki berat hingga 1 Kg per buah dengan ukuran besar, dan varietas biasa yang sering terdapat di pekarangan rumah. Buah Naga yang dibudidayakan di ICDF tidak begitu produktif, karena lahan yang kurang cocok untuk pertumbuhan buah naga. Buah Naga dapat tumbuh baik jika ditanam di daerah dengan suhu tinggi. Kedua jenis tanaman ini dalam rencananya tidak akan dibudidayakan lagi, dan lahannya akan digunakan untuk menanan tanaman Jambu Kristal yang lebih menjanjikan.

Selain tanaman buah yang dijelaskan diatas, terdapat satu jenis tanaman yang tengah dibudidayakan yaitu Jujubae. Tanaman ini memiliki bentuk dan ukuran seperti buah markisa namun warna kulitnya hijau tua. Berdasarkan penjelasan oleh petugas di Kebun Percobaan Cikarawang, buah ini memiliki perpaduan rasa antara apel dan pir.

Selain sayur dan buah, ada pula tanaman bunga. Anggrek adalah salah satu bunga yang dibudidayakan disana. Dalam sebuah rumah kaca terdapat berbagai varietas bunga anggrek dengan warna yang berbeda-beda.

 BAB IV

KESIMPULAN DAN SARAN

 4.1. Kesimpulan

            Budidaya sayur dan buah dapat dilakukan tanpa harus memiliki lahan yang luas. Karena budidaya dapat dilakukan didalam wadah atau lahan sempit sekalipun. Berdasarkan pengamatan pada praktikum ini terdapat beberapa jenis tanaman hortikultura yang dapat dibudidayakan antara lain sawi, bayam merah, bayam hijau, kangkung, pakcoy, jambu ristal, srikaya, buah naga, jujubae, tomat ceri, asparagus, okrah, kacang panjang merah, dan pare putih.

Jenis tanaman buah yang memiliki nilai ekonomi tinggi adalah jambu Kristal. Sejak penanaman, pemeliharaan,  pemanenan, packing, dan pemasaran dilakukan seluruhnya pada satu tempat. Seluruh kegiatan tersebut dilakukan dengan sangat selektif karena orientasi marketnya adalah untuk memberikan kualitas terbaik.

 4.2. Saran

            Praktikum mengenai praktik budidaya tanaman sayur dan buah ini sangat memberikan pemahaman lebih kepada mahasiswa tentang cara budidaya yang baik dan benar, serta memberikan pengetahuan tentang jenis-jenis tanaman hortikultura yang dapat dibudidayakan. Sebaiknya disediakan space waktu yang lebih panjang dan ditambah lagi petugas yang menjelaskan tentang materi budidaya. Banyak hal yang ingin diketahui oleh praktikan, namun karena terbatasnya waktu dan petugas yang memberikan penjelasan mengakibatkan pertanyaan tidak tersampaikan.

 V. DAFTAR PUSTAKA

 Anneahira. 2012. Seputar tanaman hortikultura. [Terhubung berkala]. [http://www.anneahira.com/tanaman-hortikultura.htm]. [4 Januari 2013]

 

 

 

 

 


 

 

 

 

 

 

 

 

 

0

LAPORAN AKHIR PENGANTAR NEMATOLOGI TUMBUHAN

Posted by Alexander saogo on 30 Agustus 2013 in Tugas - Tugas |

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGANTAR NEMATOLOGI TUMBUHAN

 LAPORAN AKHIR PENGANTAR

NEMATOLOGI TUMBUHAN

 Disusun Oleh :

Alexander : A34110093

2

 Dosen

Dr. Ir. Abdul Munif, M.Sc. Agr

 Asisten

Halimah

Arif Ravi Wibowo

 DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012

PENDAHULUAN

 Latar Belakang

 Tanaman jagung merupakan salah satu jenis tanaman pangan biji-bijian dari keluarga rumput-rumputan. Berasal dari Amerika yang tersebar ke Asia dan Afrika melalui kegiatan bisnis orang-orang Eropa ke Amerika. Sekitar abad ke-16 orang menamakannya mais dan orang Inggris menamakannya corn.

Jagung memiliki daya adaptasi yang baik sehingga dapat ditanam di berbagai daerah, dengan syarat kesuburan tanah cukup mendukung (Dongoran2009). Tanaman jagung sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia dan hewan. Di Indonesia, jagung merupakan komoditi tanaman pangan kedua terpenting setelah padi. Berdasarkan urutan bahan makanan pokok di dunia, jagung menduduki urutan ke 3 setelah gandum dan padi. Di Daerah Madura, jagung banyak dimanfaatkan sebagai makanan pokok.

Informasi mengenai hama dan penyakit perlu diketahui dalam budidaya tanaman apapun termasuk jagung. Dengan demikian pengelolaan hama dan penyakit tersebut dapat dilakukan secara efektif dan efisien. Menurut Fitriani (2009) hama dan penyakit yang biasa menyerang tanaman jagung adalah penggerek batang jagung (O. furnacalis), ulat tongkol (Helicoverpa armigera hubner), kutu daun (Ropalosiphum maidis fitch), belalang (Oxya spp.), tikus (Rattus argentiventer), bulai (Peronosclespora maydis (rac.)) shaw.), karat (Puccinia sorghi schwein.), dan hawar daun (Helminthosporium turcicum pass.). Selain hama dan penyakit yang disebutkan diatas, nematoda juga termasuk hama dari tanaman jagung. Nematoda (nematode) berasal dari akar kata bahasa Yunani nema berarti benang dan akhiran -oid berati seperti, sehingga nematoda adalah binatang yang bentuknya seperti benang. Nematoda juga sering disebut eelworm (cacing), threadworm(cacing berbentuk seperti benang), atau roundworm (cacing bulat).

Melimpahnya populasi nematoda tersebar luas di berbagai ekosistem dan nematoda tersebut mempunyai daya adaptasi yang tinggi disebabkan karena variasi morfologi bagian kepala nematoda khususnya alat mulut yang memungkinkan adanya variasi macam makanannya, variasi perilaku makan dan respons terhadap kondisi lingkungan serta variasi ukuran tubuh khususnya panjang tubuh antara 0.3-1.0 mm atau lebih (Mulyadi 2009).Nematoda yang biasa  menyerang pertanaman jagung adalah  P. brachyurus (Nurmahayu 2008),Radopholus (Mustika 2005), Tylenchus sp. dan Tylenchorhynchus sp.

 TUJUAN

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengetahui kelimpahan nematoda di pertanaman jagung.

 BAHAN DAN METODE

Tempat Dan Waktu Percobaan

 Pengambilan sampel di lahan jagung dilakukan di Cikarawang dan Leuwikopo pada pukul 10.00-12.00 WIB dan ekstraksi dilakukan pada pukul 13.00-18.00 WIB pada hari Rabu di Laboratorium Nematologi Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor sedangkan identifikasi dilakukan pada pukul 07.00-10.00 WIB pada hari Senin-Kamis di Laboratorium Pendidikan 3 dan Laboratorium Nematologi Departemen Proteksi Tanaman, Institut Pertanian Bogor.

Alat Dan Bahan

   Alat dan bahan yang digunakan pada metode corong Bearmann dan pengabutanadalah adalah tanah dan akar jagung, mikroskop stereo, mikroskop cahaya, gunting, bor, sekop, cawan sirakus, pipet, modifikasi corong Bearmann, gelas plastik, saringan 400 dan 500 messh, tisu, preparat, jarum pengait dan gelas objek sedangkan alat dan bahan yang digunakan pada flotasi-sentrifugasi ember, air, air gula, tabung sentrifugasi, saringan 200 dan 400 mesh, dan alat sentrifugasi.

 Metode

 Metode yang digunakan dalam pengambilan sampel pada lahan jagung adalah metode acak  pada tanaman yang terlihat sakit.  Sampel yang diambil sebanyak 10 tanaman. Metode yang dilakukan ada 3, yaitu metode corong Beramann, pengabutan, dan flotasi-sentrifugasi.

Langkah-langkah pada metode Cororng Bearmann adalah sampel tanah diletakkan di dua wadah yang berbeda dengan susunan tanah diletakkan pada gelas platik yang diberi kasa di dasar gelasnya kemudian di beri tisu sebagai penyaring dan direndam selama 7 hari. Posisi rendaman tanah tidak sampai terendam keseluruhan, namun terendam sebagian. Cairan hasil ekstraksi  tanah  disaring dengan saringan 400 mesh hingga bersih, kemudian diletakkan dalam cawan petri untuk di amati dibawah mikroskop stereo.

Langkah-langkah pada metode pengabutan adalah sampel akar yang sudah  di cucikemudiandi potong-potong dengan gunting, diletakkan dalam 2 wadah lalu diletakkan di bawah nozzle untuk  diberi kabut air secara halus  dan perlahan selama 3 hari, agar nematoda bergerak turun perlahan serta dibawah wadah akar diberi gelas sebagai penampung nematoda. Nematoda hasil ektraksi akar disaring menggunakan saringan 500 mesh. Hasil saringan ekstraksi akar diletakkan dalam cawan sirakus untuk diamati dibawah mikroskop stereo.

Langakah-langkah pada metode flotasi-sentrifugasi adalah langkah awal sama seperti metode corong Bearmannlalu  sampel tanah dimasukkan ke tabung sentrifugasi sampai penuh. Lalu tabung dimasukkan ke sentrifugasi selama 3 menit. Setelah 3 menit, suspensi dibuang tetapi disisakan sedikit lalu dicampur dengan air gula samapi penuh selama 1 menit. Setelah itu, suspensi dimasukkan ke cawan sirakus dan diamati di mikroskop stereo.

HASIL DAN PEMBAHASAN

 Tabel 1. Tabel Kelimpahan Jenis Nematoda Pada Tanaman Jagung

Jenis Nematoda

Jenis (ekor)

Jenis

Flotasi-sentrifugasi

Corong Bearmann

Pengabutan

Parasit

Non-parasit

Tylenchus

3

7

1

11

-

Tylenhorhynchus

3

5

1

9

-

Total

9

12

2

 Pembahasan

GenusTylenchus yang didapatkan pada metode flotasi-sentrifugasi dengan jumlah 3 ekor, metode corong Bearmann dengan jumlah 7 ekor dan metoda pengabutan dengan jumlah 1 ekor dan jenis nematoda (Tylenchus) yang di dapatkan yaitu jenis  nematoda parasit sedangkan jumlah Tylenchorhynchus yang didapatkan  dengan metode flutasi-sentrifugasi dengan jumlah 3 ekor, metode corong Bearmann dengan jumlah 5 ekor, dan metode pengabutan  1 ekor.

Perbandingan hasil dari corong Bearmann dan flotasi sentrifugasi menunjukkan hasil yang berbeda. Hasil dari corong Bearmann lebih banyak dari flotasi-sentrifugasi. Hasil dari corong Bearmann berjumalah 12 ekor sedangkan dari flotasi-sentrifugasi hanya 9 ekor. Hal ini mungkin disebabkan karena metode flotasi-sentrifugasi lebih sulit dilakukan sedangkan metode corong Bearmann mudah dilakukan dan prosesnya hanya sebentar.

Tylenchorhynchus merupakan nematoda migratori ektoparasit yang berasosiasi dengan rhizosper tanaman. Nematoda ini sering dikenal dengan nama nematoda stunt. Semua fase Tylenchorhynchus penginfeksi akar yang sangat aktif. Nematoda ini berada pada tanah dekat zona perakaran dan stiletnya berkembang dengan baik untuk menginfeksi jaringan akar tanaman. Tylenchorhynchus utamanya menginfeksi permukaan akar, rambut akar dan sel epidermis. Nematoda ini tersebar luas pada daerah beriklim klimat pada semua jenis tanah. Tylenchorhynchus sp. sangat sensitif pada kondisi lingkungan. Populasi nematoda ini akan meningkat pada musim kering dan menurun selama musim hujan yang lebat atau lahan yang teririgasi baik. Tipe tanah dan kelembaban juga mempengaruhi dinamika populasi nematoda ini. Tanaman yang terinfeksi Tylenchorhynchus mengalami sistem pertumbuhan akar yang buruk yang mengakibatkan stunting dan klorosis (Luc, et al 1995)

Genus Tylenchus merupakan parasit pada jagung. Morfologi dari Tylenchus adalaha kepalanya tidak atau sedikit offset, bukaan amphidial berbagai berbentuk (longitudinal dan celah transversal), biasanya tidak berbeda. Stilet sangat kecil. Tyelnchus betina mempunyai saluran genital pendek dengan tiga atau empat sel di masing-masing dari empat baris dari bagian crustaformeria, spermatheka offset atau tidak dan ekornya memanjang (Bastian 1865).

Pengendalian nematoda saat ini bisa berupa penggunaan varietas tahan (toleran), teknik budidaya (pemupukan, bahan organik, pergiliran tanaman, penutup tanah), pestisida nabati (tepung biji mimba, bungkil jarak), agen hayati (jamur Arthrobotrys, bakteri Pasteuria penetrans), pestisida kimia, dan karantina (mencegah penyebaran nematoda dari daerah terinfeksi ke daerah lain). Bagian yang penting dalam pengembangan pengendalian hama terpadu adalah strategi pengendalian nematoda harus didasarkan pada konsep pengendalian yang tepat dengan menggabungkan beberapa komponen pengendalian yang sudah tersedia, disertai dukungan kebijakan operasional dan kebijakan teknis. Kebijakan operasional dapat meliputi program pelatihan, penelitian dan pengkajian melalui koordinasi instansi pemerintah, swasta dan petani sedangkan kebijakan teknis meliputi pengawasan keberadaan (surveillance) nematoda, perkembangan penyakit yang disebabkan oleh nematoda, dan penyebarannya (Mustika 2005).

 KESIMPULAN

Kesimpulan yang didapatkan dari praktikum ini adalah kelimpahan poulasi nematoda pada tanaman jagung sangat banyak. Hal ini dikarenakan kondisi lingkungan yang mendukung sehingga nematoda dapat berkembang biak dengan baik. Dari hasil ekstraksi yang didapat, genus Tylenchus dan Tylenchorhynchus merupakan genus yang sering megeinfeksi tanaman jagung.

DAFTAR PUSTAKA

Dongoran, Doddy. 2009. Respons Pertumbuhan Dan Produksi Tanaman Jagung
 Manis (Zea Mays Saccharata Sturt) Terhadap Pemberian Pupuk Cair
 TNF Dan Pupuk Kandang Ayam[skripsi]. Medan (ID): Fakultas Budidaya Pertanian,
 Universitas Sumatera Utara.

Firiani, Fifit. 2009. Hama dan Penyakit Jagung Manis (Zea mays saccharata Sturt.) Di Desa Benteng, Cibanteng Dan Nagrog, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, Jawa Barat[skripsi].  Bogor(ID): FakultasPertanian, InstitutPertanian Bogor.

Mustika, Ika. 2005. Konsepsi dan Strategi Pengendalian Nematoda Parasit Tanaman Perkebunan di Indonesia. Perspektif. 4 (1): 20.

Nurmahayu, Ismawardani. 2008. Hubungan Nematoda Parasit Dengan Tingkat Keparahan Penyakit Layu Mwp (Mealybug Wilt Of Pineapple) Pada Nanas (Ananas Comosus L. Merr)[skripsi]. Bogor(ID): FakultasPertanian, InstitutPertanian Bogor.

 

 

 

 

 

0

PEMBUATAN PREPARAT NEMATODA SEMI-PERMANEN

Posted by Alexander saogo on 30 Agustus 2013 in Tugas - Tugas |

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGANTAR NEMATOLOGI TUMBUHAN

 PEMBUATAN PREPARAT NEMATODA SEMI-PERMANEN

 Disusun Oleh :

Alexander : A34110093

2

Dosen

Dr. Ir. Abdul Munif, M.Sc. Agr

 Asisten

Halimah

Arif Ravi Wibowo

 DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012

PENDAHULUAN

 Latar Belakang

Dalam melakukan budidaya tanaman selalu ada hambatan yang mengganggutercapainya hasil secara maksimal dalam hal kualitas maupun kuantitas. Salah satu penyebabnya adalah adanya serangan Organisme Pengganggu Tanaman (OPT). Organisme pengganggu yang paling dominan dan sering dijumpai pada umumnya adalah hama, penyakit, dan gulma. Salah satu hama yang bisa merusak adalah nematoda. Meskipun demikian, di Indonesia kerusakan tanaman karena nematoda parasit kurang disadari baik oleh petani maupun petugas yang bekerja di bidang pertanian.

Di Indonesiasudah diidentifikasi sebanyak 26 spesies nematodaparasit yang menyerang tanaman pangan, hortikultura dan perkebunan (lada, nilam, jahe, tembakau, kopi). Di antara nematoda tersebut Meloidogyne, Pratylenchus, Radopholus, dan Globodera merupakan nematoda parasit yang paling merusak. Kerusakan akibat serangan nematoda parasit di seluruh dunia dapat mencapai US$

80 milyar. Kerugian ekonomi akibat serangan nematoda pada tanaman di Indonesia belum dapat diperkirakan, mengingat sampai saat ini data kerusakan yang ada masih bersifat parsial, hanya berdasarkan hasil-hasil penelitian di rumah kaca dan lapang dalam luasan yang sangat terbatas (Mustika 2005).

Populasi nematoda melimpah dan tersebarluas diberbagai ekosistem menunjukkan nematoda mempunyai daya adaptasi relatif tinggi yang antara lain disebabkan oleh berbagai macam seperti variasi morfologis bagian kepala nematoda khususnya alat mulut yang memungkinkan adanya variasi macam makanannya, variasi perilaku makan serta respons terhadap kondisi lingkungan dan variasi ukuran tubuh khususnya panjang tubuh antara 0,3-1,0 atau lebih.

Ciri-ciri nematoda yang telah dijelaskan tidak dapat diamati secara langsung karena nematoda sangat kecil (mikroskopis) dan tidak dapat dilihat oleh mata. Maka dari itu, dibuatlah preparat agar mudah diamati bentuknya. Spesimen hidup sangat penting dalam pembuatan preparat nematoda. Pembuatan preparat adalah pekerjaan yang membutuhkan ketekunan, keahlian, dan keterampilan. Keahlian dan keterampilan akan dimiliki apabila memiliki dedikasi yang tinggi disertai ketekunan berlatih di laboratorium (Hutagalung 1988).

Preparat nematoda mempunyai arti khusus dalam mempelajari nematoda parasit tanaman. Preparat ini antara lain sangat berguna untuk koleksi dan identifikasi nematoda berdasarkan morfologi, anatomi dan taksonomi. Melihat preparat nematoda harus dibuat dengan cara-cara tertentu dan sebaik mungkin agar nematodanya tahan lama disimpan dan bagian-bagian tubuhnya (Hutagalung 1988).

 TUJUAN

Tujuan dari praktikum pembuatan preparat semi-permanen nematoda ini adalah untuk menambah keterampilan mahasiswa dalam membuat preparat.

 

BAHAN DAN METODE

 Tempat Dan Waktu Percobaan

Tempat yang digunakan untuk praktikum pembuatan preparat nematodaadalah di Laboratorium Pendidikan  3 Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor yang dilakukan pada pukul 07.00-10.00 WIB.

 

Alat Dan Bahan

Alat dan bahan praktikum nematoda semi-permanen adalah suspensi nematoda dalam larutan fiksatif (FAA), nematoda, gelas objek, lampu, pengait, mikroskop cahaya, mikroskop stereo, cawan sirakus, penutup parafin, hot plate, dan gelas woll.

 

Metode

            Buatlah cincin parafin dengan menggunakan bor dan parafin yang dipanaskan lalu parafin ditekan dengan bor dan dipindahkan ke preparat sehingga membentuk lingkaran. Setalah dibentuk cincin parafin, tambahkan FAA kedalam cincin parafin. Lalu pancinglah nematoda dan diletakkan di preparat. Satu preparat berisi tiga jenis nematoda yang sama. Nematoda yang sudah didapat, diluruskan dengan menggunakan pengait. Taruh ke potong kecil gelas woll dengan posisi radier mengarah pada lokasi nematoda. Kemudian, nematoda dilapisi gelas objek. Hati-hati meletakkan gelas objek agar posisi nemtaoda dan gelas woll tidak bergeser. Kemudian preparat dipanaskan di hot plate sampai cincin parafin meleleh. Preparat yang sudah jadi dapat diamati jenis nematodanya.

HASIL DAN PEMBAHASAN

 Pembahasan

 

Preparat nematoda dibedakan menjadi preparat permanen dan preparat semi-permanen atau sementara, tergantung kebutuhan preparat permanen sangant cocok untuk koleksi karena tahan lama disimpan, tidak mengalami kerusakna selama beberapa tahun tanpa mengalami perubahan. Pembuatan preparat permanen cukup sulit karena membutuhkan alat dan bahan yang banyak serta proses yang memakan waktu sedangkan preparat semi-permannen tidak tahan lama karena setelah disimpan beberap minggu spesimennya menjadi ppucat dan tidak jelas seta mengalami kerusakan. Preparat semi-permanen dikembangkan oleh Goodey pada tahun 1937 karena pekerja ilmiah ingin memiliki koleksi yang dapat disediakan dalam waktu yang singkat.

Mematikan dan fiksasi nematoda merupakan langkah awal dalam pembuatan preparat nematoda. Hasil pekerjaan ini sangat menentukan kualitas preparat yang dibuat. pembuatan preparat yan baik dapat menunjukkan kualitasnya sehingga dalam pembuatannya dibutuhkan berbagai bahan zat kimia. Bahan kimia yang dipakai antara lain adalah fiksasi. Berdasarkan reaksinya dengan protein, fiksasi dibedakan menjadi dua kelomok besar yaitu fiksasi koagulan misalnya etanol dan fiksasi a-koagulan misalnya formalin dan asama asetat. Fiksasi koagulan menghasilkan suatu koagulan apabila bercamur dengan suatu larutan albumin (Hutagalung 1988).

Bahan fiksasi penting yang sering dan banyak digunakan dalam pembuatan preparat nematoda dalah formaldehida (CHOH) atau formalin, asam asetat dan etanol. Formaldehida mempunyai bobot formula 30. Bahan kimia ini adalah suatu gas yang tidak berwarna dan mudah larut dalam air sebagai HO(CH2O)nH. Formalin memiliki daya penetrasi, dapat menyusut dan mengeras dengan kuat, dapat dicuci dalam air atau etanol serta dapat memlihara protein tanpa mengubah sifatnya.

Pada praktikum kali ini terjadi beberapa kesalahan seperti sulitnya memancing nematoda, saat pengambilan ada nematoda yang tertindih dan isi perutnya keluar, saat menutup dengan gelas objek ada gelembung udara yang masuk, terlalu banyak FAA, dan terlalu lama di hot plate sehingga nematodanya tidak terlihat jelas. FAA yang terlalu banyak akan menyebabkan cincin parafinnya pecah lalu akan ada gelembung di preparat sedangakan kalau terlalu sedikit cincin parafinnya akan meluber ke tengah dan menutupi nematodanya.

Genus yang didapat pada praktikum ini adalah Tylenchorhynchus.Kepalanya bulat, tubuh bergaris luar atau sedikit tertutup, dengan annulasi tipis. Stilet tipis, 15-30 μm panjangnya, skerotisasi sedang berbentuk bulat,  bagian lateral dengan 2,3,4, atau 5 garis, kutikula terkadang terpisah. Tylenchorhynchus betina mempunyai vulva median dengan dua alat kelamin yang berkembang., satu ke anterior dan satunya lagi ke bagian posterior. Spermateka bentuknya bulat. Ekor konoid (sub silinder) dengan ujung membulat(Luc, et al 1995).

 KESIMPULAN

 

Berdasarkan praktikum kali ini, praktikan dapat membuat preparat semi-permanen yang bisa digunakan pada praktikum selanjutnya dan dapat mengidentifikasi nematoda.

DAFTAR PUSTAKA

 

Hutagalung, L. 1987. Teknik Ekstraksi dan Membuat Preparat Nematoda Parasit Tumbuhan. Jakarta: Rajawali Press.

Luc, et al. 1995. Plant Parasitic Nematodes In Subtropical and Tropical Agriculture. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Mustika, Ika. 2005. Konsepsi dan Strategi Pengendalian Nematoda Parasit Tanaman Perkebunan di Indonesia. Perspektif. 4 (1): 20.

0

IDENTIFIKASI SIDIK PANTAT (PERINIAL) MELOIDOGYNE spp.

Posted by Alexander saogo on 30 Agustus 2013 in Tugas - Tugas |

LAPORAN PRAKTIKUM

PENGANTAR NEMATOLOGI TUMBUHAN

 IDENTIFIKASI SIDIK PANTAT (PERINIAL) MELOIDOGYNE spp.

 Disusun Oleh :

 Alexander : A34110093

2

 Dosen

Dr. Ir. Abdul Munif, M.Sc. Agr

 Asisten

Halimah

Arif Ravi Wibowo

 DEPARTEMEN PROTEKSI TANAMAN

FAKULTAS PERTANIAN

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

2012

 

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Tomat (Solanum lycopersicum ) adalah tumbuhan dari keluarga Solanaceae, tumbuhan asli Amerika Tengah dan Selatan, dari Meksiko sampai Peru. Tomat dapat tumbuh setinggi 1 sampai 3 meter. Tomat merupakan keluarga dekat dari kentang. Saat ini kebutuhan akan tomat semakin meningkat sejalan dengan meningkatnya konsumsi dalam negeri, tetapi kebutuhan tersebut tidak terpenuhi akibat produksi yang sangat rendah yaitu sekitar  6.3 ton/Ha. Produksi ini masih lebih rendah bila dibandingkan dengan negara-negara tropis lainnya seperti Taiwan yang telah mencapai 21.1 ton/Ha, Arab Saudi 13.4 ton/Ha, India 9.0 ton/Ha dan Philiphina 7.0 ton/Ha (Villareal 1980). Usaha untuk meningkatkan produksi tanaman tomat mempunyai banyak hambatan (Semangun 1989).

Impatiens dikenal sebagai bunga pacar air tau inai air. Jenis ini banyak tumbuh liar di sekiatr sungai, hutan, dan pegunungan pada ketinggian 500-1500m dpl. Tanaman Impatiens tidak membutuhkan perawatan khusus. Salah satu contoh Impatiens yang ada di Indonesia adalah Impatiens platypetala yang mempunyai penyebaran di hampir semua pulau.

Hambatan dalam perkembangan tanaman tomat dan pacar air adalah munculnya penyakit puru akar yang disebabkan oleh Meloidogyne. Meloidogyne termasuk nematoda parasit tanaman yang dikenal sebagai pengganggu utama berbagai tanaman penting yang penyebarannya luas dan dikenal sebagai pengganggu yang paling sulit diidentifikasi, didiagnosa dan dikontrol (Whitehead 1997).  Spesies yang dapat menyebabkan puru akar diantara lain adalah Meloidogyne arenaria, Meloidogyne hapla, Meloidogyne incognita, dan  Meloidogyne javanica.

Meloidogyne dapat dikenali dari sidik perinial atau perinial yang biasa digunakan untuk identifikasi jenis nematoda yang menyerang tanaman. Identifikasi morfologi memerlukan banyak waktu (time consuming), memerlukan pengetahuan dan ketrampilan untuk sampling, ekstraksi, dan penanganan lebih lanjut, dan punya pengetahuan serta peralatan (mikroskop) yang memadai.

TUJUAN

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk mengidentifikasi nematoda yang dilihat dengan menggunakan sidik perinial atau perinial.

 BAHAN DAN METODE

Tempat Dan Waktu Percobaan

Tempat yang digunakan untuk praktikum identifikasi perinial adalah di Laboratorium Pendidikan  3 Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor yang dilakukan pada pukul 07.00-10.00 WIB.

 Alat Dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan dalam praktikum identifikasi sidik patat atau perinial adalah mikroskop cahaya, mikroskop stereo, akar tomat dan pacar air yang terkena puru akar, jarum pentul, pengait, air, pipet, lampu, preparat, cover glass, dan cawan sirakus.

 Metode

Akar tomat dan pacar air yang terkena puru akar dibedah dengan menggunakan pengait. Pembedahan ini bertujuan untuk mencari nematoda betina dewasa dari genus Meloidogyne. Setelah Meloidogyne spp. dewasa yang berbentuk buah pir dan berwarna putih ditemukan, Meloidogyne ditaruh ke cawan sirakus. Cari sebanyak-banyaknya. Meloidogyne spp. yang ditaruh di cawan sirakus kemudian diambil dan diletakkan di preparat. Lalu gunakan mikroskop cahaya untuk menyayat bagian ujung Meloidogyne spp. dan dikeluarkan isi perutnya. Kemudian dipotong menjadi dua bagian, anterior dan posterior. Anteriornya dibuang dan posteriornya diamati dan dilihat bagian perinial di mikroskop stereo.

HASIL DAN PEMBAHASAN

 Hasil

Tabel 1. Hasil Identifikasi Sidik Pantat (Perinial)

Kelompok

Spesies

Jumlah (ekor)

1

Meloidogyne incognita

1

2

Meloidogyne arenaria, Meloidogyne javanica

2

1

3

Meloidogyne javanica, Meloidogyne arenaria

2

1

4

Meloidogyne arenaria

1

5

Meloidogyne incognita

1

Pembahasan

Pada praktikum identifikasi perinial, kelompok satu mendapatkan Meloidogyne incognita satu ekor, kelompok dua Meloidogyne arenaria dua ekor dan Meloidogyne javanica satu ekor, kelompok tiga mendapatkan Meloidogyne javanica dan Meloidigyne arenaria masing-masing satu ekor, kelompok empat mendapatkan Meloidogyne arenaria satu ekor dan kelompok lima Meloidogyne incognita satu ekor.

Spesies yang didapatkan oleh kelompok empat dan yang paling banyak didapatkan oleh kelompok lain adalah Meloidogyne arenaria dalam praktikum identifikasi perinial. Pola ini memiliki pola perineal yang sangat bervariasi. Lengkung dorsal rendah dan berbentuk bulat sampai persegi, striae kasar dan halus berombak. Beberapa striae yang mungkin menekuk ke vulva. Daerah lateral terdapat garis dalam lengkungan dorsal cenderung tajam ke arah ujung ekor dan striae ventral di sudut. Striae ini bercabang dan lebih luas dekat daerah lateral yang berbeda umumnya tidak ada. Pola juga mungkin memiliki striae yang memperpanjang lateral dan membentuk satu atau dua sayap (Nickle 1991).

Pola perineal khas yang dimiliki oleh Meloidogyne incognita adalah lengkungan persegi dorsal tinggi yang halus namun beberapa pola memiliki lengkungan dorsal rendah dan halus bergelombang, yang lain memiliki indikasi sayap lateral dan bercabang seperti garpu yang dekat garis lateral. Dua varian morfologis telah dijelaskan. Meloidogyne incognita var. incognita jenis  pola ditandai dengan lengkungan dorsal tinggi berbentuk persegi, striae bergelombang di sektor subdorsal sedangkan Meloidogyne incognita var. acrita jenis pola yang dimiliki adalah lengkungan dorsal tinggi berbentuk persegi tetapi striae di sektor subdorsal tidak bergelombang dan lebih kasar daripada di Meloidogyne incognita var. incognita. Kedua varian memiliki ulir postanal segitiga dan sering memiliki striae transversal yang cenderung menekuk ke vulva (Nickle 1991).

Pola perineal Meloidogyne javanica sangat spesifik karena spesies Meloidogyne lain memiliki gurat sisi yang berbeda yang jelas menggambarkan daerah dorsal dan ventral dari pola. Garis lateral terpisahkan oleh lengkung dorsal dari lengkung ventral. Striaenya menyeberangi garis lateral yang sering memperpanjang agak jauh dari daerah perineum. Pola yang mirip dengan Meloidogyne arenaria dan Meloidogyne incognita dapat dengan mudah diidentifikasi sebagai Meloidogyne javanica dengan adanya garis lateral yang berbeda. Bentuk keseluruhan pola perineum berbentuk bulat atau oval untuk sedikit berbentuk persegi. Lengkungan dorsal yang cukup tinggi dan sempit dan memiliki halus sampai kasar. Beberapa striae mungkin menekuk ke vulva (Nickle 1991).

KESIMPULAN

Sidik perinial atau perinial pada nematoda dapat digunakan sebagai identifikasi spesies nematoda. Perinial setiap nematoda berbeda dan sangat berariasi polanya. Pada tanaman tomat dan pacar air, akarnya dapat terserang nematoda Meloidogyne arenaria, Meloidogyne javanica, Meloidogyne hapla, dan Meloidogyne incognita.

 DAFTAR PUSTAKA

Semangun, H. 1989. Penyakit Tanaman Hortikultiura di Indonesia. Yogyakarta: UGM Press.

Villareal, R.L. 1980. Tomatoes in the tropics. Colorado: Westview Press Poulder.

Whitehead, A. G. 1997. Plant Nematode Control. Wellingford (UK): CAB International.

William R. Nickle, editor. 1991. Manual of Agriculture Nematology. New York (US): Marcel Dekter, Inc.

 

 

 

 

 

0

Laporan 3 : Pengantar Nematologi Tumbuhan

Posted by Alexander saogo on 30 Agustus 2013 in Tugas - Tugas |

LAPORAN  PRAKTIKUM

PENGANTAR  NEMATOLOGI  TUMBUHAN

 PENGAMATAN  SIKLUS  HIDUP  NEMATODA P ARASIT (Meloidogyne spp.)

 Disusun Oleh :

 Alexander  :  A34110093

2

Dosen

Dr. Ir. Abdul Munif, M.Sc. Agr

 Asisten

Halimah

Arif Ravi Wibowo

 DEPARTEMEN  PROTEKSI  TANAMAN

FAKULTAS  PERTANIAN

INSTITUT  PERTANIAN  BOGOR

2012

PENDAHULUAN

Latar Belakang

 Nematoda dipisahkan berdasarkan habitatnya, terdiri dari nematoda parasit tanaman, parasit pada manusia dan parasit pada vertebrata. Melimpahnya populasi nematoda tersebar luas di berbagai ekosistem dan nematoda tersebut mempunyai daya adaptasi yang tinggi disebabkan karena variasi morfologi bagian kepala nematoda khususnya alat mulut yang memungkinkan adanya variasi macam makanannya, variasi perilaku makan dan respons terhadap kondisi lingkungan serta variasi ukuran tubuh khususnya panjang tubuh antara 0.3-1.0 mm atau lebih (Mulyadi 2009).

Kerusakan tanaman karena serangan nematoda dapat menjadi lebih besar karena adanya interaksi dengan patogen lain, yaitu nematoda sebagai penyebab luka yang memungkinkan untuk jalan masuk patogen lain, nematoda sebagai faktor penyebab substrat jaringan tanaman sehingga pertumbuhan dan perkembangan patogen lebih baik, nematoda dapat melemahkan atau bahkan mematahkan ketahanan tanaman terhadap penyebab penyakit, dan nematoda sebagai vektor patogen khususnya virus.

Kerusakan tanaman di daerah tropika (termasuk Indonesia) lebih besar daripada di daerah subtropika antara lain disebabkan oleh musim tanam lebih panjang sehingga jumlah generasi nematoda lebih banyak, jumlah tanaman rentan lebih banyak, jenis-jenis nematoda yang berpotensi merusak lebih banyak, dan kompleks penyakit juga lebih banyak.

Dari berbagai jenis nematoda yang menimbulkan kerusakan ada tujuh genus terpenting di dunia,, yaitu Pratylenchus, Heterodera, Globodera, Tylenchulus, Radopholus, Rotylenchulus dan Meloidogyne. Penyebab kerugian ekonomi terbesar adalah nematoda puru akar (Meloidogyne spp.) antara 11-25% namun kadangkala dapat lebih tinggi. Berbagai spesies yang telah diidentifikasi, empat spesies yang telah ditemukan di dunia, yaitu M. incognita, M. javanica, M. Hapla dan M. arenaria.

Nematoda dapat menyerang hampir semua jenis tanaman, contohnya tanaman tomat yang terkena serangan Meloidogyne spp.yang mengakibatkan penyakit puru akar.

 TUJUAN

Tujuan dari praktikum ini adalah untuk melihat nematoda dari hasil pewarnaan.

 

 BAHAN Dan METODE

Tempat Dan Waktu Percobaan

Tempat yang digunakan untuk praktikum pewarnaan nematoda adalah di Laboratorium Pendidikan 2 dan 3 Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor yang dilakukan pada pukul 07.00-10.00 WIB.

Alat Dan Bahan

Alat dan bahan yang digunakan adalah beaker glass, penangas air, Chlorox, NaOCl, HCl, air, “acid fuchin”, akar tomat, dan gliserin.

Metode

Akar tanaman yang menunjukkan gejala puru akar dipotong, cuci dengan air mengalir hingga bersih dan dipotong-potong sekitar 1 cm lalu dimasukkan ke beaker glass. Akar direndam dengan campuran air dan pemutih (5,25% NaOCl atau Chlorox) sebanyak 50 ml selama 4 menit. Bilas akar dengan air mengalir selama 45 detik atau sampai bau Chlorox hilang. Kemudian direndam dalam air 15 menit. Air dibuang, tambahkan “acid fuchsin” hingga akar terendam dan didihkan selama 30 detik. Akar dalam “acid fuchsin” didinginkan pada suhu ruangan, buang larutan “acid fuchsin” kemudian akar dibilas hingga tidak berwarna. Akar direndam pada larutan glyserin yang ditetesi 3-5 tetes 5 NHCl dan dipanaskan hingga warna merah luntur.

PEMBAHASAN

Semua nematoda melewati beberapa tahap perkembangan, seperti tahap embrio, tahap juvenil (J1-J4) dan tahap dewasa. Tahap pertama adalah tahapan telur kemudian J2 (vermiform) yang infektif, setelah masuk akar tubuh membengkak, ganti kulit ke 2, 3, dan 4 secara cepat. Nematoda juvenil dua inilah yang sudah bisa menyerang akar. Nematoda betina dewasa akan membesar seperti buah pir atau seperti buah lemon sedangkan yang jantan akan seperti cacing.

Nematoda betina dewasa berbentuk seperti botol yang bersifat endoparasit yang tidak terpiah (sedentary), mempunyai leher pendek dan tanpa ekor. Panjangnya lebih dari 0.5 mm dan lebarnya antara 0.3-0.4 mm. Daerah bibir kecil dan mempunyai 3 annulus. Stiletnya lemah dan panjangnya 12-15 µm, melengkung kearah dorsal serta mempunyai pangkal knop yang jelas. Betina Meloidogyne mempunyai esophagus dengan metakorpus bulat dan jelas serta mempunyai lembaran berbentuk bulan sabit. Kelenjar esophagusnya besar dan overlap. Telur-telurnya diletakkan di dalam kantung telur dan diekskresikan oleh sel-sel kelenjar rektum.

Nematoda jantan dewasa berbentuk seperti cacing (vermiform), bergerak lambat di dalam tanah. Panjangnya bervariasi, maksimum 2 mm. Kepalanya tidak berlekuk, panjang stiletnya hampir dua kali lipat dari stilet betina. Ekornya pendek dan membulat. Mempunyai satu atau dua testis. Pada beberapa jenis jantan ada yang interseks (Dropkin 1988).

Pembiakan tanpa jantan sering terjadi di Meloidogyne tetapi pada jenis lain kedua jenis kelamin masih diperlukan dalam reproduksi. Telur-telurnya diletakkan di dalam kantung telur yang gelantinus yang berfungsi sebagai pelindung telur dari kekeringan dan jasad renik. Kantung telur yang baru terbentuk biasanya tidak berwarna dan menjadi coklat setelah tua. Telur-telur mengandung zigot sel tunggal apabila baru diletakkan. Embrio berkembang menjadi juvenil yang mengalami pergantian kulit pertama di dalam telur. Juvenil dua muncul pada suhu dan

kelembaban yang sesuai serta bergerak di dalam tanah menuju ke ujung akar yang sedang memanjang, merusak sel-sel dengan mematukan stiletnya berulang-ulang. Setelah masuk di dalam akar, juvenil bergerak di antara sel-sel sampai tiba di dekat silinder pusat, Seringkali berada di daerah pertumbuhan akar samping. Di tempat tersebut juvenil menetap dan memakan sel-sel tumbuhan. Nematoda yang sudah dewasa akan membesar dan mengalami ganti kulit dengan cepat dan selanjutnya menjadi jantan atau betina dewasa. Nematoda jantan dewasa bentuknya panjang dan berada di kutikula dan muncul dari jaringan akar sedangkan nematoda betina dewasa terus-menerus menghasilkan telur kadang sampai 300-400 telur dan tetap tertambat pada daerah tempat makanannya. Lama daur hidupnya bervariasi tergantung pada suhu dan inang. Paling cepat 3 minggu dan paling lama beberpa bulan.

 KESIMPULAN

Hasil praktikum pewarnaan nematoda ini dapat melihat siklus hidup nematoda Meloidogyne spp. dari tahap telur sampai dewasa.

DAFTAR PUSTAKA

Agrios, George N. 1936. Plant Pathology 5th edition. California: Elsevier Academic Press.

Dropkin, Victor H. 1991. Pengantar Nematologi Tumbuhan. Ir. Supratoyo, penerjemah. Yogyakarta (ID): Gadjah Mada University Press. Terjemahan dari: Introduction To Plant Nematology.

Mulyadi. 2009. Nematologi Pertanian. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

 

Copyright © 2011-2015 alexandersaogo All rights reserved.
This site is using the Desk Mess Mirrored theme, v2.3, from BuyNowShop.com.